INFO SAWIT, JAKARTA - Dalam mendukung penerapan budidaya kelapa sawit yang optimal, kelembagaan petani menjadi salah satu faktor yang berperan sangat penting sebagai wadah dan mesin penggerak fungsi perencanaan, pengelolaan kebun yang tepat dan efisien, pengawasan dan evaluasi kegiatan, serta peningkatan kapasitas petani secara terus menerus.
Situasi umum yang dihadapi oleh petani swadaya tradisional adalah masih bersifat sporadik dan belum terorganisir, baik dalam bentuk koperasi, kelompok tani, atau badan usaha bersama lainnya. Di sisi lain profesionalitas pengelolaan organisasi, kapasitas sumber daya manusia, pencatatan, pengaturan tata kelola ke dalam (terhadap anggota) dan ke luar juga merupakan aspek yang masih relatif lemah, perlu penguatan intensif sehingga kelembagaan petani dapat berperan sebagaimana mestinya.
Lemahnya elemen keorganisasian di atas menjadi salah satu faktor yang menyebabkan produktivitas kelapa sawit petani tidak maksimal. Selain produktivitas kebun sawit petani yang masih rendah, alur penjualan Tandan Buah Segar (TBS) yang dilakukan secara langsung oleh petani swadaya secara individual tanpa melalui suatu kelembagaan, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya daya tawar petani swadaya.
Hal tersebut menyebabkan penjualan TBS petani tidak menjadi prioritas di Pabrik Kelapa Sawit (PKS), bahkan tidak tertampung. Yang terjadi kemudian adalah para petani menempuh jalan singkat dengan cara menjual TBSnya kepada para tengkulak, dimana pada umumnya harga buah sawit petani kerap dihargai lebih rendah.
Penerapan praktik budidaya kelapa sawit sesuai kaidah berkelanjutan, dengan disertai penguatan kelembagaan petani, akan meningkatkan daya tawar petani tidak hanya dalam hal akses penjualan TBSnya, namun juga informasi dan pengetahuan dalam pengelolaan budidaya kelapa sawit.
Untuk lengkapnya bisa dibaca pada InfoSAWIT Edisi Juli 2015
http://store.infosawit.com/







