Berita Lintas
sawitbaik

Lokakarya Di Accra Buat Pedoman Minyak Sawit Berkelanjutan



Lokakarya Di Accra Buat Pedoman Minyak Sawit Berkelanjutan

INFO SAWIT, GHANA - Satu set pedoman untuk mengontrol produksi minyak sawit berkelanjutan di beberapa negara Afrika Barat telah dikembangkan oleh peserta lokakarya di Accra.

Prinsip mencakup kebijakan dan kerangka hukum untuk mengatur pengembangan kelapa sawit, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan keprihatinan sosial-ekonomi, keterlibatan stakeholder dan mata pencaharian pedesaan dan hak-hak petani kecil dan petani plasma di sepanjang rantai nilai minyak sawit.

Sisanya akan melihat isu-isu yang berkaitan dengan penelitian dan penyuluhan, penerapan praktik terbaik manajemen, hak-hak buruh dan kewajiban dan pembiayaan dan pendanaan jangka panjang.

Lokakarya, yang diselenggarakan di Accra, merupakan bagian dari Aliansi Hutan Tropis (TFA) 2020 inisiatif Afrika Palm Oil, yang mengembangkan seperangkat prinsip daerah tingkat tinggi untuk memandu pengembangan kelapa sawit di seluruh wilayah.

Proforest, yang memimpin Initiative atas nama TFA 2020, menyelenggarakan Lokakarya Nasional Ghana Pembangunan Kelapa Sawit Berkelanjutan bekerjasama dengan Pemerintah melalui Kementerian Pangan dan Pertanian.

Ini membawa bersama-sama perwakilan senior dari pemerintah, tokoh adat, perusahaan besar minyak sawit dan barang konsumsi, dan organisasi masyarakat sipil.

Direktur Proforest Afrika, Abraham Baffoe, sebagimana dilansir laman Ghanaweb, Rabu (29/7/2015), mengungkapkan kesenangannya bahwa peserta telah menyepakati rancangan Prinsip untuk Produksi Minyak Sawit yang Bertanggung Jawab di Ghana.

“Mereka akan memandu pengembangan sektor ini dan akan membantu produsen untuk memenuhi permintaan internasional untuk minyak kelapa sawit yang diproduksi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Lokakarya TFA 2020 merupakan kemitraan publik-swasta yang menyatukan perusahaan, pemerintah dan masyarakat sipil dengan tujuan bersama untuk mengurangi penggundulan hutan tropis di seluruh dunia.

Baffoe menambahkan, lokakarya ini fokus pada komoditas pertanian seperti kelapa sawit, kedelai, pulp dan kertas, dan produk daging sapi, yang mendorong lebih dari 50% dari deforestasi tersebut. (T3)