JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tercatat sebagai organisasi internasional dalam menaungi beberapa negara didunia, pada Rabu (29/7/2015), menerbitkan laporan terbarunya yang menyebutkan konversi hutan Kalimantan secara besar-besaran untuk produksi kelapa sawit, bersama-sama dengan dampak perubahan iklim mendorong terjadinya kepunahan terhadap orangutan di pulau terbesar di Asia.
“Sehingga jelas bahwa masa depan tanpa pembangunan berkelanjutan adalah masa depan dengan iklim yang dan, pada akhirnya, tanpa orangutan, salah satu kerabat terdekat kita,” lapornya.
Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), Achim Steiner mengatakan, kebijakan saat untuk konversi lahan di Kalimantan hanya bersifat tidak berkelanjutan, tidak hanya untuk orangutan tetapi juga untuk populasi manusia.
Lebih lanjut laporan itu menyebutkan, konversi secara besar-besaran terhadap Kalimantan untuk pembangunan pertanian – terutama kelapa sawit – akan membuat orangutan terancam punah, terfragmentasi dan menghadapi kepunahan di sejumlah daerah.
“Dampak lingkungan dari perubahan iklim akan diperburuk oleh deforestasi di Kalimantan, dan dapat mengakibatkan banjir parah, kenaikan dalam suhu, penurunan produktivitas pertanian, serta efek negatif lainnya,” tulisnya yang dikutip laman unic-jakarta.
Disebutkan juga, bahwa laju deforestasi di Kalimantan telah menjadi di antara yang tertinggi di dunia selama lebih dari dua dekade, dan 56% dari hutan dataran rendah tropis yang dilindungi – daerah kira-kira sebesar Belgia – telah hilang antara tahun 1985 dan tahun 2001.
Perlu diketahui laporan ini diterbitkan oleh UNEP dan Universitas Liverpool John Moores, bekerjasama dengan Kemitraan Kelangsungan Hidup Kera Besar (GRASP). (T3)










