INFO SAWIT, Pekanbaru - Peningkatan ekonomi masyarakat Riau yang berada di atas rata-rata nasional, tidak terlepas dari banyaknya perkebunan sawit di Riau. Bahkan luas perkebunan sawit dari hasil penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Riau seluas 3 juta hektare.
Luas tersebut terus meningkat, seiring banyaknya animo masyarakat yang sulit dibendung. Antusias masyarakat terhadap perkebunan sawit ini menurut Prof Almasdy Syahza SE MP, Kepala LPPM Unri, karena masyarakat melihat orang yang memiliki kebun sawit, hidupnya sejahtera.
Hal ini pula yang membuat masyarakat tidak tahu atas kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh sawit. Kata Almasdy, dampak sosialnya juga. Dengan berkembangnya perkebunan kelapa sawit, daerah yang dulunya terisolir, sekarang tidak terisolir lagi. “Ekonomi tumbuh akibat pembangunan jalan ke daerah terpencil yang banyak perkebunan sawit,” katanya pada Seminar Internasional yang mengangkat tema Co-existence of Oil Palm Plantation, Biodiversity and Peat Fire Prevention, minggu lalu, di gedung LPPM Unri.
Perkembangan SDM, terutama di sektor perkebunan kelapa sawit juga meningkat. Ini juga yang membuat dorongan alih fungsi lahan. Akibatnya ketika lahan habis, mulai merembet ke hutan-hutan ke sekitarnya, sementara pengawasan masih sangat kurang. Termasuk pelaksanaan hukum dan UU di lapangan tidak terlaksana dengan maksimal. Hal ini ditambah lagi dengan orang luar Riau yang membuat perkebunan kelapa sawit di Riau. Seperti program future earth.
Sebab itu dalam seminar sepakat, ke depan harus dilakukan penataan ulang. Sebab ketika musim kemarau melanda Riau, dengan tidak turun hujan selama 15 hari saja, membuat lahan gambut kering hingga 5-10 cm. Apalagi tidak diguyur hujan selama sebulan, kekeringan lahan gambut mencapai 10-15 cm. (T2)







