Berita Lintas
sawitbaik

MENGGALANG KEMITRAAN SWADAYA



MENGGALANG KEMITRAAN SWADAYA

Dengan potensinya yang cukup besar, saat ini pelaku perkebunan mulai menggandeng petani swadaya sebagai mitra. Sekaligus guna menggenjot produktivitas kebun sawit petani, dengan harapan produksi meningkat tanpa harus membuka areal baru.

Masalah produktivitas pada perkebunan kelapa sawit milik petani yang tercatat masih rendah, sepertinya menjadi kabar yang lumrah. Ini terjadi akibat proses budidaya secukupnya lantaran pengetahuan budidaya serta dana yang terbatas, memaksa petani swadaya melakukan budidaya kelapa sawit semampunya.

Jika saja kondisi demikian terus dibiarkan, sontak bakal memperburuk keadaan petani. Belum lagi dikala proses penjualan Tandan Buah Sawit (TBS) di pabrik, TBS petani swadaya terkadang menjadi prioritas yang kesekian lantaran tidak ada jaminan kualitas, hasilnya asam lemak bebas (FFA) meningkat tinggi, harga TBS pun menjadi melorot jauh.

Ketidak berdayaan petani swadaya diperparah dengan tidak adanya kelembagaan petani semisal Kelompok Tani atau kelembagaan Koperasi. Padahal dengan adanya kelembagan petani tersebut, menjadi gerbang daya tawar petani dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah mapan.

Sebab itu Yayasan Setara Jambi, memulai untuk melakukan pendampingan terhadap petani kelapa sawit swadaya, utamanya disekitar wilayah Jambi guna melakukan penguatan kelembagaan petani, sebelum mendorong kerjasama petani swadaya dengan perusahaan perkebunan.

Direktur Utama Yayasan Setara Jambi, Rukaiyah Rafiq menuturkan, hingga saat ini pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap petani swadaya yang seluruhnya merupakan petani lokal di 5 desa, yakni Desa Merlung, Lubuk Terap, Pulau Pauh, Rantau Benar dam Sungai Rotan.

Pendampingan dilakukan semenjak dua tahun silam, dengan fokus pada pengorganisasian petani lewat pembentukan Kelompok Tani hingga terkumpul menjadi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). “Saat ini kami mendampingi sebanyak 500 KK petani swadaya, dengan luas lahan sekitar 1.200 ha,” tutur Rukaiyah Rafiq kepada InfoSAWIT, lewat surat elektronik baru-baru ini.

Cara ini tentu saja sebagai upaya untuk memberikan akses yang lebih baik terhadap petani kelapa sawit swadaya, terlebih kata Rukaiyah, petani swadaya yang didampingi didominasi petani dari masyarakat lokal, sehingga memiliki keunikan bahkan memiliki kerumitan sendiri. Kabarnya kerumitan itu sangat berbeda ketika Yayasan Setara mendampingi petani mandiri yang berasal dari transmigrasi.

Dalam melakukan pendampingan di 5 desa itu, Yayasan Setara terlebih dahulu membukakan akses petani ke perusahaan perkebunan, untungnya salah satu perusahaan perkebunan yang beroperasi di Jambi, telah membuka diri untuk membantu petani di sekitar perusahaan. “Selanjutnya, baru melakukan pengorganisasian petani,” kata Rukaiyah.

Kabarnya kedepan Yayasan Setara bakal terus memperbesar jumlah pendampingan petani kelapa sawit swadaya di Jambi, yang diperkirakan jumlahnya bisa mencapai sekitar 100 ribu KK.

Dengan potensi yang cukup besar itu tentu saja sangat disayangkan jika tidak dikelola atau diajak kerjasama. Untungnya salah satu perusahaan perkebunan nasional seperti Asian Agri membuka diri untuk melakukan kerjasama dengan petani swadaya.

Bahkan perusahaan milik Taipan Sukanto Tanoto ini bakal menjadikan petani swadaya sebagai mitra utama, ini dilihat dari target optimis kemitraan swadaya yang bakal dibangun Asian Agri.

Merujuk informasi dari perusahaan, sampai tahun 2014, Asian Agri telah bekerjasama dengan 3.484 petani swadaya dengan luas lahan sekitar 11.242  ha berlokasi di Sumatera Utara, Riau dan Jambi, kerjasama itu diawali semenjak 2012 silam.

Nah, kabarnya target kerjasama dengan petani swadaya itu . . .