Berita Lintas
sawitbaik

INFO MAKSI : KELAPA SAWIT : APA YANG HARUS MENJADI FOKUS PERHATIAN KITA?



INFO MAKSI : KELAPA SAWIT : APA YANG HARUS MENJADI FOKUS PERHATIAN KITA?

Dalam perspektif siklus jangka panjang Kondratiev, teknologi perkebunan besar yang dikembangkan sekarang ini adalah hasil inovasi teknologi yang sudah berusia panjang, yaitu hasil inovasi  sejak tahun 1700an. Dalam sejarah evolusi perkebunan lebih dari 300 tahun tersebut, kita menyaksikan bahwa pada era awal VOC masuk ke Indonesia pada 1602, daya tarik Nusantara pada waktu itu adalah rempah-rempah. Sejalan dengan perkembangan dunia selanjutnya, masa rempah-rempah ini berakhir tidak lama mengingat persaingan antar-bangsa Eropa pun menurunkan harga rempah-rempah di Eropa.

Selanjutya, Tanam Paksa yang dimulai pada 1830, menempatkan kopi dan tebu sebagai komoditas unggulan sehingga kedua komoditas ini dikecualikan dari penghentian Tanam Paksa pada 1870, yaitu Tanam Paksa untuk kedua komoditas tersebut baru diakhiri pada awal 1900an. Masa kejayaan kopi berakhir pada akhir 1800an, yang kemudian posisi utamanya digantikan oleh gula.  Tetapi, tidak lama gula setelah masa keemasan kopi berakhir, masa keemasan gula juga berakhir pada 1930an. Posisi gula tebu ini kemudian digantikan oleh karet.  Masa kejayaan karet berakhir pada 1960an. 

Apa yang menjadi sumber devisa Indonesia kemudian? Pasca masa keemasan karet adalah minyak bumi dan ekspor hasil hutan. Kedua komoditas unggulan tersebut berakhir masa keemasannya pada 1980an. Pada tahun 1980an Indonesia mulai mengembangkan kelapa sawit secara besar-besaran, yang didukung secara khusus oleh kebijakan Program Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN). Sekarang, Indonesia mendapatkan julukan sebagai negara dengan perkebunan kelapa sawit terbesar dunia dengan luas kurang-lebih 10 juta hektar, luas areal perkebunan yang kurang-lebih sama dengan luas negara Korea Selatan. Pertanyaannya: apakah perkebunan kelapa sawit ini akan mengalami nasib yang sama dengan komoditas-komoditas yang disebutkan di atas?

Data dari MPOC (Gambar 1) menggambarkan fluktuasi harga selama tanggal 1-25 Juli 2015.  Dengan harga pada 25 Juni 2015 sebesar RM 2264/ton atau sama dengan US$ 588.6/kg.  Penurunan harga ini cukup tajam dibandingkan dengan posisi pada 6 atau 7 Juni 2015, yaitu sekitar RM 2341/ton atau sekitar US$ 608/ton. Walaupun demikian, harga tertinggi pada bulan Juni tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga riil minyak sawit pada tahun 1965, misalnya, yaitu US$ 1262/ton. 

Tren penurunan harga riil komoditas pertanian secara komposit dalam . . .