JAMBI – Petani kelapa sawit di Provinsi Jambi pertanyakan adanya perbedaan rendemen dalam pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit oleh perusahaan. Masalahnya perbedaan ini menyebabkan harga TBS non plasma jauh lebih rendah dari harga yang telah disepakati secara bersama yang dilakukan antara pemerintah, perusahaan dan pekebun.
Seorang petani kelapa sawit dari Muaro Jambi, Alex Sinaga (49), KAMIS (9/10/2014), segabaimana dilansir Media Jambi, mengatakan pada rapat penetapan harga yang dilakukan setiap minggunya pihak perusahaan yang jumlahnya sekitar 40 hadir hanya 10 perusahaan.
Bahkan, lanjutnya menerangkan, pihak perusahaan hanya mengutus orang yang tidak bisa mengambil keputusan. Sehingga jika ada pertanyaan tidak bisa dijawab secara lugas. "Saya selaku pekebun minta kepada pemerintah, khususnya Dinas Perkebunan menyurati mereka agar setiap penetapan harga hadir dan bisa memberi penjelasan tentang mengapa indeks K rendah," ujarnya pada penetapan harga TBS, kamis (9/10). (T3)










