INFO SAWIT, JAKARTA - Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mengapresiasi hadirnya Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP) sebagai sebuah inisiatif baru dalam komitmen prinsip kelapa sawit berkelanjutan. Dimana sebelumnya lima perusahaan anggota IPOP yakni Wilmar, Golden Agri Resources (GAR), Cargill, Asian Agri, dan Musim Mas mempraktekkan kesalahan dalam bisnis sawit di Indonesia.
Untuk itu kata Ketua SPKS Mansuetus Darto, pihaknya mendesak, agar anggota IPOP merealisasikan komitmen prinsip kelapa sawit berkelanjutan tersebut. Dengan dukungan pemerintah melalui penciptaan regulasi yang memudahkan anggota IPOP dalam menimplementasikan visi nya
“Petani akan di untungkan dari kehadiran IPOP tersebut. Keuntungan bagi petani kelapa sawit adalah hadirnya akses yang lebih luas seperti misalnya akses terhadap pasar dan akan mendapatkan nilai lebih dari sekedar menjual TBS (Tandah Buah Sawit), asalkan petani berpartisipasi dalam komitmen ini,” paparnya dalam keterangan pers yang diterima InfoSAWIT, Jumat.
Darto meyakini bahwa jika dilaksanakan komitmen tersebut akan membantu terbangunnya skema yang adil antara petani dan perusahaan. Karena seluruh anggota dari IPOP tersebut menghendaki hadirnya kerjasama dengan petani kelapa sawit swadaya seiring hadirnya pendekatan intensifikasi untuk meminimalisir ekspansi bisnisnya.
Lebih lanjut katanya, komitmen bisnis tersebut sangat penting bagi petani dikarenakan peran negara yang sangat minim dalam melaksanakan amanat UU no 19 tahun 2013 tentang pemberdayaan dan perlindungan petani.
Namun demikian dirinya memperkirakan visi ini tidak mudah untuk dilaksanakan karena terdapat beberapa tantangan di level nasional seperti masih kurangnya soliditas dari seluruh aktor dunia kelapa sawit antara yang mendorong sustainability dan yang masih belum bisa sustainable masih bekerja masing-masing. Para pihak cenderung defensif dan selalu menyalahkan bahwa sustainability adalah konsep asing yang akan membatalkan segala inisiatif perubahan yang dicanangkan oleh semua pihak.
“Karena itu, SPKS meminta perusahaan untuk serius menjalankan visinya sehinga manfaatnya dapat dirasakan oleh petani dan konflik sosial masyarakat dapat segera diatasi,” tuturnya.
Namun, tambahnya, jika perusahaan besar tidak serius dalam pelaksanaanya maka tentunya konsep keberlanjutan dan transformasi yang ditawarkan akan melemahkan partisipasi penuh dari masyarakat dan petani. (T3)










