INFO SAWIT, BENGKULU - Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan, ia menyayangkan anjloknya nilai mata uang rupiah terhadap dollar Amerika turut menggerus harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tidak.
Padahal dengan anjloknya harga rupiah terhadap dolar seharusnya petani bahagia, namun kenyataanya saat ini justru petani sawit dan karet malah menjerit. “Saya kira kondisi ini tidak hanya terjadi di Bengkulu saja, namun juga dialami oleh para petani sawit dan karet di seluruh Indonesia,” katanya.
Ia menjelaskan, untuk mencari solusinya, Disbun tengah mengkaji Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bengkulu tetang Kelapa Sawit dan karet agar nantinya harga ditingkat petani bisa setabil dan tidak fluktuatif seperti sekarang. “Kami juga akan petinggi perusahaan CPO yang ada di Bengkulu terkait turunya harga TBS ini, kami akan minta keterangannya,” ujarnya seperti dikutip Bengkulu Ekspres, Sabtu.
Meski begitu Ricky meyakini terpuruknya harga kepala sawit dan karet ini tidak akan berlansung lama dan akan kembali stabil seperti sebelumnya. (T3)







