Berita Lintas
sawitbaik

Kamerun Larang Naikan Impor Sawit



Kamerun Larang Naikan Impor Sawit

INFO SAWIT, YAOUNDE – Kamerun yang menjadi negara pengimpor minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia, pada pekan lalu melarang untuk meningkatkan impor minyak nabati tersebut.

Menurut keterangan salah satu pejabat negara, langkah itu dilakukan untuk melindungi industri dalam negeri. Ribuan tenaga kerja di Kamerun akan kehilangan pekerjaan jika impor minyak sawit murah itu tidak dibatasi.

Salah satu pejabat perusahaan agroindustri Kamerun, Cameroon Development Corporation (CDC), Orilius Mbui, menuturkan bahwa ancaman mengintai sekitar 16.000 tenaga kerja dari enam perkebunan sawit yang menghadapi kompetisi tidak sehat di dalam negeri.

Setelah menghadapi situasi itu, Perdana Menteri Kamerun memutuskan minyak sawit impor harus dijual dengan harga US$3 per liter, atau lebih mahal 1 dolar AS per liter dari harga minyak nabati domestik. Jika tidak dijual lebih mahal, maka sulit bersaing.

“Itu aturan yang menetapkan minyak nabati impor harus dijual dengan harga 3 dolar AS per liter dan dalam kontainer khusus dengan kandungan Vitamin A. Kami catat bahwa minyak yang sudah diimpor harganya turun,” tuturnya seperti dikutip Voanews.

Terlebih, sebutnya, komsumsi minyak nabati di Kamerun cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari data Cameroon Association of Vegetable Oil Producers yang menyebutkan produksi di dalam negeri tercatat 32.000 liter per bulan dan ditambah impor 20.000 liter per bulan, terutama dari Malaysia dan Indonesia.

Jacques Kemleu Tchabgou yang juga Sekjen Cameroon Association of Vegetable Oil Producers mengatakan sebagian besar masyarakat memilih minyak nabati impor karena lebih murah dibandingkan produksi lokal.

“Kami tak bisa terima itu. Kami punya empat pabrik yang sudah tutup sekarang dan sejumlah pabrik yang berproduksi hanya 50% dari kapasitasnya. Kami tidak bisa produksi jika tak bisa menjualnya,” ujarnya

Meski begitu, kebijakan itu mendapat penentangan dari seorang Ekonom dari University of Yaounde One, Ariel Ngnitedem. Dirinya tidak sepakat dengan keputusan itu dan Kamerun harus mendorong industri lebih kompetitif dan kualitas produksinya bagus. Keputusan itu membuat Kamerun akan diadukan ke World Trade Organization (WTO) dimana Kamerun menjadi salah sau anggota. (T3)