Berita Lintas
sawitbaik

INVESTASI PERKEBUNAN MASIH BERLANJUT



INVESTASI PERKEBUNAN MASIH BERLANJUT

Berbagai persoalan ekonomi kian meradang di tahun 2015 ini, dari turunnya permintaan pasar hingga nilai tukar mata uang yang kian melemah. Banyaknya persoalan ekonomi tersebut, juga menjadi batu sandungan bagi bisnis minyak sawit. Dari perkebunan hingga industri hilir sawit, kian menghadapi berbagai  masalah yang menghadang.

Turunnya permintaan pasar global termasuk domestik akan minyak sawit, memang sudah dirasakan sejak akhir tahun lalu. Berkurangnya permintaan pasar global, sebagai imbas dari turunnya ekonomi di banyak negara termasuk negara-negara tujuan ekspor minyak sawit. Rendahnya permintaan, sebagai akibat utama menurunnya daya beli masyarakat global.

Suplai pasar global, sejatinya bergantung kepada pasokan asal Indonesia. Indonesia memegang peranan penting bagi keberadaan minyak sawit mentah (CPO), yang berasal dari perkebunan kelapa sawit nasional. Kendati keberadaan pasokan CPO asal Indonesia sangat penting, namun keberadaannya tergantung kebutuhan pasar.

Akibatnya, ketergantungan akan pasar global sangatlah besar. Bila permintaan pasar global tinggi, sedangkan pasokan terbatas, maka harga CPO secara perlahan akan meninggi. Sebaliknya, bila permintaan pasar global turun, maka harga CPO juga akan merendah. Sebab itu, fluktuasi harga jual CPO, sangat besar ketergantungannya akan suplai dan permintaan pasar internasional.

Infrastruktur Mendorong Produktivitas

Menurut Kepala Staf Kepresidenan (sebelum diganti Teten Masduki) yang juga Menkopolhukam, Luhut Panjaitan, secara nasional kendati terjadi depresiasi harga, hampir di semua lini sektor usaha terjadi kenaikan biaya, namun kondisi Indonesia tidak terlalu buruk dibandingkan negara lainnya. Kondisi hutang sebesar 32% dari GDP, masih lebih baik dibandingkan tahun 1998 lalu. “Kondisi sekarang jauh lebih baik, dibandingkan dahulu, seperti infrastruktur jalan yang kian membaik”, kata Luhut, seraya mengenang masa bertugas di Papua.

Infrastruktur, menurutnya memegang peranan penting bagi keberhasilan dunia usaha. Sebab itu, keberadaan infrastruktur jalan, pelabuhan dan sumber tenaga industri menjadi kunci keberhasilan pembangunan industri di suatu negara termasuk Indonesia. Kendati baru saja berjalan, namun infrastruktur nasional masih lebih baik ketimbang hukum.

Sebab itu, dunia usaha seperti perkebunan kelapa sawit harus mendapatkan dukungan pemerintah, guna membantu meningkatkan keberhasilan usaha. Semisal, penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar biodiesel, jika kita mampu membakar CPO 500 ribu ton saja, maka suplai dan demand akan berubah, sehingga harga jual CPO akan naik.

Dengan harga jual CPO yang naik, maka  . . .