Berita Lintas
sawitbaik

INFO CWE - PENGARUH VOLUME LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT (LCPKS) TERHADAP TOTAL SUSPENDED SOLID



INFO CWE - PENGARUH VOLUME LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT (LCPKS) TERHADAP TOTAL SUSPENDED SOLID

Efektifitas Penggunaan Kolam Limbah di Pabrik Kelapa Sawit

Setelah melewati perombakan bahan organik, saatnya tahapan pengolahan limbah cair kelapa sawit, lewat pemantauan volume limbah terhadap total suspend solid, sehingga didapat efektifitas pengelolaan limbah.

Pada tulisan sebelumnya pengelolaan limbah telah melewati proses perombakan bahan organik, sebab itu kini dilanjutkan dengan tahap berikutnya yakni pengolahan limbah cair sembari memantau pengaruh volume limbah terhadap total suspend solid, sehingga didapat efektifitas pengolahan limbah cair.

Untuk tahapan pengolahan limbah cair diawali dengan proses pendinginan, pada tahap ini pendinginan dilakukan dengan dua cara,yakni, pertama, menara pendingin,yaitu air limbah dengan menggunakan menara, yang kemudian dibantu dengan bak pendingin. Menara dibuat dari plat stainlessteel  yang tahan karat atau dengan konstruksi kayu. Alat ini mampu menurunkan suhu limbah dari 60°C – 40 °C. Lantas kedua, pendinginan limbah dengan kolam. Pendinginan ini dikombinasikan dengan pengutipan minyak. Pendinginan didalam kolam dilakukan selama 48 jam.  

Setelah proses pendinginan dilakukan tahapan Deoling Pond yang berfungsi untuk mengutip minyak hingga kadar minyak 0.4%. Netralisasi. Sementara pembuatan kolam pembiakan bakteri untuk membiakkan bakteri pada awal pengoperasian kolam pengendalian limbah. Untuk membiakkan bakteri diperlukan kondisi yang optimum seperti, pH netral yaitu 7.0, suhu 30 - 40°C untuk bakteri mesophill, 57 - 60°C untuk bakteri thermophill.

Kemudian, nutrisi yang cukup mengandung nitrogen dengan posfat, kedalaman kolam 5 – 6 m.Ukuran kolam diupayakan dapat menampung limbah 2 hari olah setara 400 m3 untuk PKS kapasitas 30 ton TBS/Jam.

Limbah yang telah dinetralkan dialirkan ke dalam kolam anaerobic untuk diproses. Untuk mengefektifkan proses perombakan dalam kolam anaerob maka perlu diperhatikan beberapa faktor semisal, sirkulasi untuk mempertinggi frekuensi persinggungan antara bakteri dengan substrat maka dilakukan sirkulasi dalam kolam itu sendiri.

Kemudian, Resikulasi ialah pemasukan hasil olah limbah dari kolam dihilir ke kolam dihulu dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi substrat dalam hal pH,nutrisi dan kelarutan. Sementara, kandungan Minyak yang masuk ke dalam kolam akan mempengaruhi aktifitas bakteri, yaitu minyak tersebut berperan sebagai isolasi antara substrat dengan bakteri juga minyak tersebut jika bereaksi dengan alkali dapat membentuk sabun berbusa yang sering mengapung dipermukaan kolam dan bercampur dengan benda – benda yang lain dan disebut dengan “scum”.

Guna mengaktifkan proses perombakan maka scum yang terlalu tebal diatas permukaan kolam limbah perlu dibuang. Karena scum yang tebal sangat menyulitkan gas methan yang terbentuk keluar ke udara terbuka. Juga scum ini dapat menghambat pergerakan limbah sehingga penyebaran bakteri dan lumpur aktif dimasukkan tidak merata. Kedalaman kolam anaerobik tetap harus dipertahankan yaitu dengan melakukan pengorekan secara terjadwal.

Sistem Pengolahan Limbah Cair Kelapa Sawit

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan suatu unit proses yang bertujuan untuk menurunkan beban pencemar yang  . . .