INFO SAWIT, JAKARTA – Belum lama ini, Indonesia telah menyampaikan draf Intended Nationally-Determined Contribution (INDC) yang akan diajukan pada konferensi iklim global – COP21 di Paris akhir tahun ini.
Menurut Greenpeace, dalam pres rilisnya yang diterima InfoSAWIT, Kamis, dokumen tersebut seharusnya memuat solusi atas krisis deforestasi dan kebakaran lahan yang kini berlangsung, yang membuat Indonesia masuk pada urutan atas negara-negara penyumbang emisi gas rumah kaca global.
Namun sangat disayangkan komitmen Indonesia dalam deklarasi New York atas hutan dan target pembangunan berkelanjutan yang segera akan diratifikasi, draf INDC telah gagal dalam mendukung komitmen untuk nol deforestasi, termasuk perlindungan gambut dan restorasinya.
“Presiden Joko Widodo akan segera memimpin delegasi besar ke pertemuan iklim di Paris. Itu hanya akan memalukan Indonesia di panggung dunia, jika komitmen tersebut tidak mengatasi masalalah deforestasi dan kehancuran gambut yang bertanggung jawab atas sedikitnya 2/3 emisi gas rumah kaca Indonesia,” ucap Jurukampanye hutan Greenpeace Indonesia Teguh Surya.
Menurutnya, Draf INDC saat ini disusun dengan konsultasi publik yang minim, dan sumber data yang tidak transparan. Selain itu, tidak ada analisis tentang emisi Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir, tidak ada prediksi baseline dan penilaian pengurangan emisi karbon seperti apa yang dibutuhkan berbagai sektor untuk memenuhi target baru yang ditetapkan.
Teguh menambahkan, ketidak terbukanya pemerintah perihal data-data dalam INDC, memperjelas penolakan untuk membuka informasi pengelolaan sumber daya alam, termasuk hutan dan lahan gambut, yang memuat data detail peta yang menunjukkan siapa yang bertanggungjawab dalam pengawasan dan perlindungan hutan dan gambut.
“Masyarakat Indonesia berhak tahu siapa yang berada di balik penghancuran hutan dan gambut, dan berhak untuk memberi masukan dalam INDC dengan proses yang transparan untuk memastikan pemerintah melakukan sesuatu yang nyata untuk menghentikannya. Kami tidak ingin membiarkan pemerintah bersembunyi di balik layar yang dibuatnya,” ujarnya. (T3)









