INFO SAWIT, JAKARTA – Indonesian Palm Oil Pledge (IPOP), sebuah inisiatif komitmen berkelanjutan dari beberapa perusahan besar kelapa sawit mendapat kritikan dari berbagai pihak. Alasannya karena IPOP telah mematikan penjualan tandan buah segar (TBS) milik petani.
Dengan prinsip-prinsip berkelanjutan yang diterapkan IPOP, banyak petani sawit ditengarai tidak bisa menjual TBS nya ke perusahaan-perusahaan yang menjadi anggota inisitaif itu.
Tudingan itu pun ditanggapi dingin oleh Direktur Eksekutif IPOP, Nurdiana Darus. Menurutnya, perusahaan-perusahaan anggota IPOP selalu dalam dialog dengan perusahaan-perusahaan supplier baik tingkat besar maupun menengah untuk memperbaiki praktik-praktik bisnis mereka.
“Kami mengharapkan perusahaan-perusahaan supplier inilah yang dapat mengayomi dan memberdayakan petani-petani dalam rantai pasok mereka untuk mampu melaksanakan praktik pertanian berkelanjutan,” katanya kepada InfoSAWIT, Senin.
Industri kelapa sawit, katanya, memerlukan pemikiran jauh ke depan untuk memastikan keberlanjutannya, sehingga kebutuhan masyarakat nasional dan global akan minyak sawit mentah (CPO) dapat terus terpenuhi.
Menurut Nurdiana, ada beberapa hal yang penting dalam isu keberlanjutan yakni memastikan bahwa praktik penanaman kelapa sawit hingga pengelolaannya memperhatikan kelestarian lingkungan, memastikan bahwa tidak ada hak sosial masyarakat yang dilanggar, serta mampu meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat lokal dan para petani semaksimal mungkin.
“IPOP merupakan komitmen dari para anggotanya yang telah bersepakat untuk melakukan prinsip-prinsip berkelanjutan dalam keseluruhan rantai pasoknya. Prinsip-prinsip tersebut disusun untuk memastikan sektor kelapa sawit dapat mempertahankan posisi sebagai sektor strategis bagi Indonesia. Karenanya, implementasi komitmen IPOP tentu akan mempengaruhi cara kerja keseluruhan pemangku kepentingan dalam rantai pasok, termasuk petani kelapa sawit,” jelasnya.
Lanjutnya ia menjelaskan, hingga kini diperkirakan seluruh perusahaan anggota IPOP memiliki lebih dari 400.000 orang petani baik plasma maupun swadaya dalam rantai pasoknya. (T3)










