Tahun ini, kabut asap kembali menebal dari sebagian wilayah Indonesia. Keberadaan polusi udara ini, akibat terjadinya kebakaran lahan di beberapa wilayah di Indonesia. Kabut asap ini pun kian menebal, dan berdampak langsung terhadap kesehatan dan aktivitas perekonomian di beberapa daerah
Kejadian kebakaran lahan di beberapa wilayah Indonesia, memang bukan hal baru di Indonesia. Kebakaran lahan yang terjadi sudah menjadi semacam ritual tahunan, yang membuat sesak pernafasan dan tak kunjung bisa dihentikan. Faktor iklim dan alam, seperti timbulnya hotspot api di beberapa wilayah dan pengaruh El Nino, diduga kuat menjadi penyebabnya.
Selain itu, kelalaian dan perbuatan oknum pembakar lahan secara sengaja, juga masih ditemui dibeberapa wilayah kebakaran. Toh, kebakaran tak kunjung mengecil, selain beberapa daerah di pulau Sumatera yang terbakar, kejadian serupa juga melanda sebagian daerah yang berada di pulau Kalimantan dan sekitarnya.
Presiden RI Jokowi beserta jajarannya, mengambil inisiatif langsung terjun ke lapangan, tempat terjadinya kebakaran. Di daerah terjadinya kebakaran, Presiden Jokowi langsung memberikan perintah kepada para pembantunya, untuk mengambil tindakan secara tegas kepada oknum pelaku pembakaran dan melakukan pemadaman sesegera mungkin.
Pemadaman api di wilayah kebakaran, melibatkan seluruh instansi yang terkait, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Polri, TNI, dan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten. Dalam melakukan pemadaman, selain petugas pemadam kebakaran, juga melibatkan masyarakat sekitar dan aparat penegak hukum.
Aparat penegak hukum, diminta Presiden Jokowi, secara tegas mengambil langkah hukum untuk mengusut dan menangkap oknum pelaku pembakaran. Berdasarkan informasi dari Polri, kasus kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia hingga akhir bulan September 2015, tercatat sebanyak 218 kasus.
Informasi yang dirilis Divisi Humas Polri beberapa waktu lalu, juga menyebutkan keberadaan kasus yang ditangani penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Kepolisian Daerah (Polda) dan Kepolisian Resor (Polres).
Kasus kebakaran yang langsung ditangani Bareskrim sebanyak 4 kasus, sedangkan kasus terbesar di Pulau Sumatera berada di Provinsi Riau sebanyak 68 kasus, Provinsi Sumatera Selatan ada 34 kasus, dan Jambi sebanyak 18 kasus.
Pulau Kalimantan, secara berturut-turut, Kalimantan Tengah ada 57 kasus, Kalimantan Barat sebanyak 25 kasus, Kalimantan Selatan ada 8 dan Kalimantan Timur sebanyak 4 kasus. Keberadaan kasus kebakaran lahan dan hutan, sebagian besar masih berada dalam tahap penyelidikan dan penyidikan.
Secara umum, pemerintahan Presiden Jokowi berkomitmen mengurangi atau bahkan menihilkan kejadian kebakaran lahan dan hutan di Indonesia. Sebab itu, Presiden Jokowi memberikan solusi untuk segera membangun embung air di wilayah-wilayah yang berpotensi terjadinya kebakaran.
“Saya memerintahkan Kementerian kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pemda agar mewajibkan perusahaan membangun embung yang bisa dimanfaatkan untuk perendaman (rewetting) tanah gambut,” kata Presiden Jokowi, sebagaimana dikutip dari halaman website Setkab.
Dampak El Nino
Menurut peneliti The Center for International Forestry Research (CIFOR), Herry Purnomo, terjadinya kebakaran lahan dan hutan sudah sejak lama terjadi. Dahulu, keberadaan lahan dan hutan masih cukup lebat berada di Indonesia, namun . . .










