Disaat masalah masih menggunung seperti harga yang masih melemah, munculnya tudingan miring dan infrastruktur yang tak kunjung rampung, justru industri kelapa sawit melakukan lompatan besar, dengan berupaya menjadi industri yang mandiri.
Kendati masih banyak yang perlu diselesaikan, lantaran kendala pada industri kelapa sawit masih saja menggunung, tidak menghentikan industri emas licin ini untuk terus tumbuh dan bergerak.
Terbukti, malah telah melakukan sebuah lompatan besar dengan berupaya menjadi industri yang bisa berdiri sendiri. Langkah besar yang dilakukan industri kelapa sawit itu menjadi tema utama dalam sebuah pagelaran konferensi Palm Oil Industry Development Conference (POIDEC) 2015, yang sudah kali kedua digagas oleh Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).
Dalam kegiatan konferensi POIDC 2015 yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta banyak diangkat berbagai hal yang berkaitan dengan masalah-masalah di sektor hulu hingga hilir sawit.
Termasuk seperti kondisi saat ini yang mana industri sawit nasional masih dihadapkan pada melemahnya harga, namun demikian industri sawit dituntut untuk bisa terus berkembang. “Semua sedang sulit maka kita semua mesti berkorban,” kata Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, belum lama ini di Jakarta.
Pengorbanan yang dimaksud ialah dengan menerapkan pungutan perkebunan yang sudah berjalan semenjak pertengahan Juli 2015 silam. Hasil pungutan kabarnya bakal digunakan untuk mendorong industri biodiesel nasional lewat skim subsidi selisih harga biodiesel dengan solar fosil.
Cara in . . .










