INFO SAWIT, JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menilai pemanfaatan energi baru terbarukan harus ditingkatkan melihat persediaan energi fosil yang semakin menipis.
Berdasarkan data yang ditunjukan BPPT dalam Buku Outlook Energi 2015, diketahui bahwa total produksi energi dalam negeri (fosil dan EBT) pada tahun 2031, jika melihat pola konsumsi energi saat ini, sudah tidak mampu lagi memenuhi konsumsi domestik sehingga Indonesia akan menjadi negara “net importir energi”. Selain itu, Indonesia akan menjadi negara “net importir gas” pada tahun 2026.
Kepala BPPT Unggul Priyanto, mengatakan ketergantukan impor energi dapat membahayakan ketahanan energi nasional. “Oleh karena itu, upaya-upaya diversifikasi energi, pembangunan infrastruktur energi termasuk kilang, maupun investasi untuk eksplorasi dan eksploitasi mutlak diperlukan. Selain itu, kebijakan ekspor gas dan batubara perlu ditinjau ulang dalam rangka mengamankan pasokan energi domestik di kemudian hari,” katanya disela peluncuran buku Outlook Energi 2015, Selasa.
Unggul Priyanto menjelaskan launching buku outlook energi ini untuk memotret kondisi energi di negara ini. Melalui outlook energi ini diharapkan menjadi masukan buat pemerintah di bidang energi.
“Energi mempunyai peran penting dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam proyeksi outlook energi BPPT diungkap total penyediaan energi primer untuk memenuhi kebutuhan energi skenario pembangunan berkelanjutan meningkat 8 kali lipat dengan laju pertumbuhan rata-rata 5,7 persen dari 1.179 juta setara barel minyak (SBM) pada 2013 menjadi 9.281 juta SBM pada 2050. (T3)









