SEPTEMBER 2014 SILAM DI NEW YORK, AS DITANDATANGANI IKRAR SAWIT BERKELANJUTAN OLEH EMPAT PERUSAHAAN SAWIT GLOBAL, SAYANGNYA IKRAR BERKELANJUTAN ITU DITUDING BAKAL MEMUNCULKAN BANYAK KENDALA, BENARKAH?
Disela-sela acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perubahan iklim berlokasi di New York, Amerika Serikat September 2014 silam, muncul kesepakatan ikrar penerapan praktik budidaya kelapa sawit berkelanjutan atau dikenal dengan Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP).
Dimana sebelumnya empat perusahaan sawit diantaranya, Golden Agri Resources Ltd., Wilmar International Ltd., Cargill, dan Asian Agri menyepakati penerapan ikrar tersebut, yang berisi tentang tidak akan membuka kebun sawit di lahan gambut, menerapkan nol deforestasi, bersama-sama mengidentifikasi hutan berkarbon stok tinggi (HCS), serta melindunginya termasuk keragaman hayati dan kondisi sosial di dalamnya.
Kemudian produsen maupun konsumen memastikan, bahwa produk kelapa sawit yang dihasilkan benar-benar bisa ditelusuri (traceability) berasal dari tidak merusak lingkungan.
Awal tahun 2015, keanggotan IPOP pun bertambah dengan masuknya Musim Mas sebagai anggota, penandatangan masuknya Musim Mas langsung dari si empunya perusahaan, Bachtiar Karim.
Kini lima perusahaan telah dan akan menerapkan ikrar kelapa sawit berkelanjutan, yang mana inisiasi ikrar penerapan praktik berkelanjutan mendapat dukungan penuh dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Kabarnya dari lima perusahaan itu bakal ada satu perusahaan lagi yang bakal menyusul menjadi anggota, hanya saja sampai saat ini belum diketemukan kesepakatan, padahal kata Direktur Eksekutif IPOP, Nurdiana darus, pihaknya sudah beberapa kali berjumpa untuk membahas policy sustainability yang menjadi salah satu prasyarat masuknya perusahaan sawit dalam keanggotaan IPOP. “Kami masih menunggu policy sustainability dari Astra Agro,” katanya kepada InfoSAWIT belum lama ini di Jakarta.
Dianggap Munculkan Masalah
munculnya IPOP tidak lantas semua pihak menerima, bahkan ada sebagian stakeholder sawit yang merasa sengit dengan kehadiran IPOP, lantaran IPOP dituding bakal menjadi beban baru bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Alasannya, bukankah sudah ada . . .










