Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (PKS-CWE) sebagai salah satu sekolah tinggi khusus untuk sektor perkebunan kelapa sawit, terus memperkuat kualitas, salah satunya di 2016 bakal pula menjadi lembaga sertifikasi profesi level pertama.
Diakui atau tidak kedepan persaingan sumber daya manusia di sektor perkebunan bakal kian semakin ketat. Apalagi akhir tahun ini diterapkan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), yang menjadi pintu terbukanya pekerja asing perkebunan ke Indonesia.
Jika kondisinya demikian, maka siap-siap saja Indonesia bakal kebanjiran tenaga pekerja perkebunan asing, apalagi utamanya untuk sektor sawit, Indonesia adalah pemilik lahan kelapa sawit terluas dan produsen utama minyak sawit mentah (CPO) di dunia, yang berpotensi banyak diisi pekerja asing.
Sebab itu kualitas pekerja di sektor perkebunan mesti ditingkatkan, salah satunya dengan meluncurkan sertifikasi profesi sebagai bentuk bukti kualitas pekerja yang siap pakai di lapangan.
Merujuk hasil studi dari Boston Consulting Group memperlihatkan Indonesia bakal menjadi sasaran empuk negara-negara di ASEAN. Dimana sebanyak 80% akan menyasar pasar konsumen di Indonesia seperti Thailand, Singapura, dan Malaysia.
Sebab itu sudah sepantasnya pekerja asal Indonesia dibekali keterampilan yang mumpuni lewat skim sertifikasi profesi, agar pekerja Indonesia bisa bersaing dengan pekerja asing, termasuk mampu bersaing bekerja di negara asing.
Sejalan dengan kondisi tersebut, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (PKS-CWE) pun sedang mempersiapkan diri menjadi lembaga sertifikasi profesi (LSP) tingkat pertama.
Persiapan itu sudah dilakukan setahun silam, Direktur PKS-CWE, Nugroho Kristiono mengatakan, pihaknya hingga saat ini telah mengirimkan sebanyak 20 orang, diantaranya 14 orang dari staff dosen, 6 Manajer kebun dan Asisten Kepala guna mengikuti pelatihan sebagai assesor untuk proses dalam sertifikasi profesi kebun dan pabrik sawit. “Kami telah mengirimkan staff dosen dan manajer kebun dari perusahaan sawit group kami untuk mengikuti Training-of-Trainers (TOT),” katanya kepada InfoSAWIT belum lama ini di Bekasi, Jawa Barat.
Disusul dengan mengirim 2 orang lagi untuk melakukan pelatihan di Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), pelatihan ini kata Nugroho, terkait persiapan dalam upaya PKS-CWE menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi tingkat pertama, seperti pelatihan Penyusunan Dokumen dan Sistem Manajemen Mutu (SMM).
Jika saja semua tahapan itu telah . . .










