Berita Lintas
sawitbaik

INFO MAKSI - ANCAMAN PELARANGAN KEBIJAKAN ROTASI TANAMAN SAWIT



INFO MAKSI - ANCAMAN  PELARANGAN  KEBIJAKAN ROTASI  TANAMAN SAWIT

Jamur Ganoderma menjadi ancaman terbesar bagi perkebunan kelapa sawit, sebab itu dibutuhkan alternatif rotasi tanaman sebagai cara memutus perkembangan kanker sawit itu, hanya saja kebijakan itu dilarang, jika demikian kebun sawit dalam ancaman besar.

Serangan hama dan penyakit tanaman bisa menimbulkan bencana besar.  Bencana kelaparan di Irlandia yang terjadi antara tahun 1845-1853 yang diakibatkan oleh serangan penyakit busuk daun kentang, telah mengakibat kan 1 juta orang di negara tersebut dan 1.5 juta orang di beberapa negara sekitar Irlandia meninggal dunia. Di samping itu 2 juta orang Irlandia yang masih hidup eksodus besar-besaran utamanya ke Amerika Serikat. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar penduduk Irlandia pada waktu itu tergantung sepenuhnya pada kentang. Sebenarnya kala itu di Eropa dan Amerika juga terjadi serangan penyakit busuk daun yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora tersebut namun  tidak berdampak berat karena makanan penduduk di kedua benua tersebut cukup bervariasi.

Satu tahun pasca terjadinya serangan Badai yang menghancurkan 825 ribu ha lahan pertanian di Benggala, pada tahun 1943 terjadi serangan penyakit yang merusak 90% tanaman padi. Sebagai akibat dari serangan penyakit pada tanaman padi tersebut, 7 juta orang Benggala dan pengungsi Burma mati karena kelaparan. Sebagai catatan Benggala Barat merupakan negara bagian India sedangkan Benggala Timur adalah negara Bangladesh saat ini.

Kehancuran Sawit oleh Ganoderma

Kehancuran sawit di satu wilayah atau provinsi oleh serangan Ganoderma bukan tidak mustahil. Gunakan Google Earth untuk melihat kondisi kebun sebagian besar yang sudah mengalami replanting 3-4 kali. Pasti akan kelihatan betapa besar dampak serangan Ganoderma pada daerah-daerah tersebut. Sampai dengan saat ini serangan Ganoderma tidak bisa dikendalikan dan kecenderungannya intensitas dan kejadian semakin meningkat dari tahun ke tahun dan dari generasi ke generasi.

Tidak dapat di sangkal lagi kebun yang baru berumur 14 tahun harus direplanting lagi karena populasinya tinggal 70 - 80 tanaman per hektar dengan produktivitas per tanaman menurun karena ukuran tandannya kecil dan rendemen minyaknya rendah.

Bila kondisi di daerah endemik dibiarkan berlangsung seperti itu dan tanpa ada tindakan yang berarti, maka dapat dipastikan perkebunan kelapa sawit yang sudah replanting sampai dengan 3 - 4 kali tidak lama lagi akan hancur dan meninbulkan bencana. Hanya saja bencana yang terjadi bukan berupa kelaparan dan kematian manusia tetapi berupa kerugian finansial yang sangat besar.

Telah kita ketahui bersama bahwa . . .