SETELAH LEBIH DARI SATU DASAWARSA, ROUNDTABLE ON SUSTAINABLE PALM OIL (RSPO) BERPERAN SEBAGAI LEMBAGA PENGUSUNG PRAKTIK BERKELANJUTAN UNTUK SEKTOR KELAPA SAWIT, TELAH MEMPERLIHATKAN BUKTI, DAN SIAP MENUJU VISI GLOBAL DI 2020.
Untuk ke tiga belas kalinya perhelatan akbar Roundtable Meeting (RT) yang diadakan lembaga Nirlaba Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), bakal kembali digelar, bertempat di Hotel Shangri-La, Kuala Lumpur sepanjang 16 sampai 19 November 2015.
Pada acara ini seluruh stakeholder kelapa sawit dunia bakal bertemu dan membicarakan lebih lanjut tantangan praktik sustainability kedepan. Dikatakan Sekjen RSPO, Darrel Webber, pihaknya tahun lalu saat pertemuan RT 12 telah berupaya untuk mampu “melampaui harapan” dimana ada beberapa pihak yang berpendapat, apa yang telah dilakukan RSPO adalah langkah brilian yang mana bisa berpikir dan mengubah perjalanan menuju masa depan untuk tetap berada di jalur berkelanjutan.
Waktu yang ditunggu pun telah tiba, saat ini telah masuk tahun 2015, apakah ini menjadi pertanda baik? 2015 menjadi penting lantaran bakal menjadi bukti aksi regional dalam hal penerapan praktik berkelanjutan, sekaligus menuju visi global di tahun 2020. Namun perlu diakui untuk melampaui itu semua terkadang banyak menghadapi tantangan.
Lebih lanjut tutur Darrel, banyak pemerintah, organisasi dan industri di seluruh dunia berupaya mengambil bagian secara serius dan menjadi bagian dari upaya penerapan praktik berkelanjutan. Jika semua itu diabaikan maka bakal menjadi situasi yang tidak layak.
Namun demikian RSPO kini tetap untuk terus bergerak dan maju sesuai dengan jalurnya, menyadari semua beban tanggung jawab itu, tetap melakukan mobilisasi individu dengan latar belakang yang berbeda-beda, komuniti dan organisasi, guna mendorong untuk pembicaraan yang positif dan tetap menjaga tujuan utama dari implikasi tindakan pembangunan yang tidak berkelanjutan.
“Untuk acara Roundtable Meeting tahun ini, kami akan mengundang banyak pembicara dari penjuru dunia, yang bakal membawa berbagai pengalaman dan ide-ide baru untuk dibagikan,” kata Darrel, dalam siaran pers yang diterima InfoSAWIT belum lama ini.
Sebelumnya untuk RT 13 ini rencananya bakal digelar di Thailand, namun lantaran kondisi yang tidak memungkinkan yang terjadi di negara Gajah Putih itu, maka lokasi acara pun diubah ke Kuala Lumpur.
Dalam acara yang bakal berlangsung selama tiga hari itu tercatat bakal menampilkan banyak tema seminar yang menarik, apalagi kali ini dalam pembuka seminar bakal mengulas mengenai perluasan merek berkelanjutan versi RSPO.
Termasuk mengenai isu pekerja kebun, . . .










