INFO SAWIT, JAKARTA – Sejumlah petani kecil atau mandiri kelapa sawit diberbagai daerah di Indonesia sering kali disulitkan dengan langkanya pupuk bersubsidi, sehingga mereka harus merogoh kantong lebih dalam untuk mendapatkan pupuk non subsidi karena harganya yang lebih mahal.
Direktur Eksektutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung, mengatakan untuk mengatasi permasalahan tersebut seharusnya pemerintah menghapus pemberian subsidi tidak langsung ganti menjadi subsidi langsung.
“Peraturannya kan lahan dibawah 2 hektar boleh menggunakan pupuk bersubsidi atau untuk sawit sekitar 1,5 juta hektar, rata-rata mereka sulit mencapai akses itu sehingga hanya sebagian kecil yang menikmati,” katanya kepada InfoSAWIT di Jakarta, belum lama ini.
Apalagi, jelasnya, bulan Desember 2015 telah dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimana barang-barang termasuk pupuk bebas mengalir untuk di perdagangkan yang memungkinkan petani-petani dari negara lain menikmati subsidi pupuk.
Oleh karena itu, menurut Tungkot, subsidi tidak langsung sudah tidak relevan lagi. “Kalau mau sibsidi langsung ke petani atau dana subsidi menjamin harga produksi pertanian,” ujarnya. (T3)









