INFO SAWIT, Kuala Lumpur - Environmental Investigation Agency (EIA) bersama Grassroots kali ini membuat laporan yang memperlihatkan kelemahan sistem Rountable on Sustainable Palm Oil( RSPO), sampai auditor gagal mengidentifikasi dan memitigasi praktik tak berkelanjutan oleh perusahaan-perusahaan sawit anggota RSPO. Laporan berjudul“Who Watches The Watchmen? Auditors and the Breakdown of Oversight in the RSPO” ini menampilkan beberapa studi kasus di Indonesia.
Dalam laporan itu, telihat banyak kelemahan dalam pelaksanaan standar RSPO. Antara lain, kegagalan sistemik auditor. Auditor dinilai kurang mampu dan secara umum niat mengidentifikasi kekurangan minim serta mempertahankan perusahaan tetap dalam standar RSPO. Lembaga Sertifikasi dalam merespon bukti pelanggaran juga enggan, apalagi memahami bagaimana kegagalan prosedural internal terjadi.
Accreditation Services International (ASI) melakukan penilaian tahunan untuk mengecek kemampuan lembaga sertifikasi dan dimandatkan menangguhkan mereka jika diperlukan. Penilaian ASI kepada lembaga sertifikasi ini, belum diungkap ke publik hingga transparansi soal ini dipertanyakan. Juga ada conflict of interest. Di mana, lembaga sertifikasi menyediakan jasa sertifikasi kepada anggota yang sedang diamati karena ada keluhan kepada perusahaan itu. Konsultasi saat proses NPP juga lemah. Kelemahan juga terjadi dalam penilaian high conservation value (HCV).
Dua organisasi ini merekomendasikan beberapa hal. Kepada RSPO, mereka meminta antara lain, mengembangkan pedoman wajib penilaian kualitas minimum HCV yang dapat diterima, Social and Enviromental Impact Assessments (SEIAs) dan penilaian Free, Prior and Infrmend Consent ( FPIC) pada Prosedur Penanaman Baru (New Planting Procedure/NPP). RSPO juga diminta memastikan berkonsultasi aktif dengan ahli dan masyarakat dilakukan dalam periode NPP. Guna meningkatkan akuntabilitas auditor, perlu mempublikasikan penilaian ASI tahunan lembaga sertifikasi.
Kepada para pembeli, pedagang dan lembaga keuangan, diminta melakukan uji kelayakan di level konsesi sampai mereka bisa mengatasi kelemahan sistem seperti dalam laporan ini. Darrel Webber, Sekretaris Jenderal RSPO menyatakan, bisa menangkap berbagai permasalahan yang disampaikan. “Kami terus melangkah. Ya, memang kami belum menyelesaikan semua tetapi kami akan selesaikan dari waktu ke waktu,” katanya di Kuala Lumpur. (T2)










