INFO SAWIT, JAKARTA – Baru-baru ini Pemerintah Daerah Sumatera Selatan menggandeng sektor swasta, masyarakat dan komunitas lokal meluncurkan program pengelolaan lahan berkelanjutan dengan nama Aliansi Eko-Kawasan Sumatera Selatan: Kemitraan untuk Perubahan (South Sumatra Eco-Region Alliance: A Partnership for Change).
Aliansi yang dibentuk tersebut bertujuan untuk mencari solusi dari deforestasi, degradasi lahan gambut, kebakaran hutan, mata pencaharian lokal, serta dampak iklim terkait dalam konteks pembangunan ramah lingkungan.
Dikatakan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin Gubernur Alex Noerdin mengatakan Sumatera Selatan kini mulai mengarah pada pola pembangunan ramah lingkungan dengan cara meningkatkan produktivitas tanpa merusak lingkungan.
"Praktik-praktik pengelolaan lahan dewasa ini yang bersifat business as usual berbahaya bagi lahan gambut kita yang sudah rapuh," kata dia.
Untuk beralih ke pola pembangunan ramah lingkungan dan melindungi sumber daya alam berharga, lanjut Alex, maka dibutuhkan sebuah pendekatan yang melibatkan semua pemangku kepentingan.
Sedangkan Kepala Perwakilan Indonesia untuk Zoological Society London, Andjar Rafiastanto, menyatakan Indonesia telah kehilangan tutupan hutan cukup besar akibat kebakaran hutan yang belum lama terjadi.
Menurut Andjar, kebakaran ini tidak hanya mendegradasi area hutan dan mengurangi keanekaragaman hayati, tetapi juga berdampak pada kesehatan jutaan warga di seluruh kawasan. (T2)









