INFO SAWIT, KUALA LUMPUR – Studi mengenai penghitungan karbon stok memasuki era baru, studi ini kabarnya dilakukan oleh Komite Teknis Independen, yang terdiri dari ahli-ahli dalam bidang biomasa, karbon tanah, alat deteksi jarak jauh, ekonomi dan sosial, dan pembangunan berkelanjutan. Studi ini, yang telah dievaluasi sebanyak dua kali secara transparan oleh para ahli, juga telah mempertimbangkan masukan dari para pemangku kepentingan.
Merujuk rilis yang diterima InfoSAWIT, Jumat, studi Ilmiah HCS merekomendasikan sebuah metodologi praktis (metodologi HCS+) sebagai sebuah panduan baru bagi perkembangan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Dimana studi ini mencatat ada empat target yang bisa dicapai, diantaranya, pertama, melindungi seluruh hutan dengan stok karbon atas tanah lebih dari 75 ton per hektar, gambut, dan tanah organik lainnya.
Kedua, memastikan konversi lahan dengan karbon netral, dan berkontribusi melindungi keanekaragaman hayati dan nilai-nilai konservasi penting lainnya, ketiga, melindungi hak-hak masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan komunitas masyarakat baik di tingkat lokal maupun daerah; dan Keempat, memungkingkan untuk dilaksanakan dari aspek ekonomi, dan dapat diterima oleh para pemangku kepentingan, di antaranya pemerintah, komunitas lokal dan perusahaan yang melakukan perkembangan baru.
Pada saat yang sama, memastikan konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit dilakukan secara bertanggung jawab. Penulis studi ini berkeyakinan bahwa studi ini dapat mengurangi deforestasi, dan pada saat yang sama juga mempertimbangkan kebutuhan untuk mengurangi kemiskinan serta permintaan global yang meningkat drastis akan minyak nabati.
“Kami percaya studi ini memberikan industri kelapa sawit sebuah kesempatan yang unik untuk menyesuaikan kepentingan ekonomi dengan kebutuhan penting dari melindungi hutan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mendukung hak-hak dan kesejahteraan komunitas lokal dan petani,” tutur salah satu Ketua Pengarah, Jonathon Porritt (T2)









