Pesatnya pertumbuhan industri kelapa sawit tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri benih sawit. Termasuk handalnya Sumber Daya dalam menghasilkan benih unggul.
Salah satu barometer pertumbuhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah industri benih kelapa sawit. Dimana jumlah benih yang terjual setiap tahun, termasuk mutu benih yang terjual bakal menentukan perkembangan luas lahan baru dan lahan peremajaan (replanting) serta hasil produksi.
Merujuk data perkembangan luas lahan perkebunan kelapa sawit nasional, kebutuhan benih sawit nasional baru terpenuhi sekitar tahun 2009-2010, dimana jumlah benih sawit yang terjual hampir setara dengan jumlah pertambahan luas lahan perkebunan kelapa sawit dalam setahun.
Dengan demikian, sebelum tahun 2009 jumlah produksi benih sawit dalam negeri ditambah dengan benih sawit yang di impor masih belum cukup guna memenuhi kebutuhan benih untuk penanaman baru.
Dalam kajian yang dilakukan penulis, tahun 2008, dan telah dipublikasikan serta dipresentasikan pada beberapa konferensi internasional, selama hampir sepuluh tahun pada periode 1997 – 2007, terdapat selisih (gap) hampir sekitar 30% kekurangan benih sawit setiap tahunnya. Ini dilihat dari perbandingan jumlah benih yang terjual dan luas lahan baru kelapa sawit selama kurun waktu tersebut. Ini berarti bahwa selisih kekurangan (over demand) benih tersebut diperkirakan berasal dari sumber benih yang tidak bersertifikat atau tercatat.
Benih tanpa sertifikat tersebut cenderung memiliki tingkat produktivitas yang rendah. Inilah salah satu alasan fundamental mengapa produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional hingga saat ini, khususnya dari lahan milik perkebunan rakyat, masih rendah dan cenderung tetap rendah hingga satu dekade mendatang, bahkan hingga masa peremajaan tiba.
Salah satu pemicu utama dari terjadinya selisih kekurangan (over demand) benih sawit sebelum tahun 2009 lantaran produsen benih sawit nasional belum sanggup memenuhi jumlah permintaan benih pada saat tersebut. Pemicu utama lainnya adalah belum dipahami sepenuhnya oleh para pekebun tentang pentingnya menggunakan benih bersertifikat sebagai dasar utama investasi mereka.
Padahal, sekali salah menggunakan benih sawit yang sesuai maka investasi awal tersebut akan sangat menentukan pendapatan penanamnya untuk selama satu periode tanam sawit, atau sekitar 25 tahun, mendatang.
Jika diasumsikan . . .










