INFO SAWIT, JAKARTA – Pada November 2015, ekspor CPO Indonesia tercatat hanya mampu mencapai 2,38 juta ton atau terpangkas 8,6% dibandingkan eskpor CPO pada bulan sebelumnya (Oktober) yang sebanyak 2,61 juta ton.
Penurunan itu terjadi lantaran terpangkasnya ekspor CPO ke negara-negara Afrika, yang mencapai 70% atau menjadi hanya 72,3 ribu ton dibanding Oktober yang mencapai 259 ribu ton. Penurunan permintaan disinyalir akibat isu Pelarangan dari Food and Drugs Authority atau Otoritas Makanan dan Obat-obatan di Ghana menyusul ditemukan banyaknya minyak sawit yang menggunakan pewarna sintetis yang membahayakan kesehatan.
Demikian juga ekspor CPO ke India pada November turun menjadi 506,39 ribu ton atau anjlok 25,5% dibanding permintaan di Oktober yang mencapai 679,38. Penurunan ini kabarnya akibat munculnya pelarangan penumpukan minyak nabati di dalam negeri.
Demikian pula ekspor CPO ke Bangladesh yang juga mendapat rapor merah, lantaran ekspor minyak sawit Indonesia ke Bangladesh hanya mampu mencapai 44,85 ribu ton atau turun 55% dibanding ekspor bulan sebelumnya sebesar 99,96 ribu ton. Hal yang sama diikuti Amerika Serikat (AS). Kinerja ekspor minyak sawit ke Negeri Paman Sam pada November melorot 30% atau hanya mampu mencapai 82,19 ribu ton.
Penurunan permintaan itu diduga akibat melimpahnya stok kedelai di dalam negeri dan isu sustainable palm oil sourcing. “Kebakaran lahan menjadi salah satu alasan bahwa minyak sawit Indonesia tidak sustainable. Selain itu perubahan regulasi pemberian insentif terhadap biodiesel di AS,” tutur Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan dalam siaran pers yang diterima InfoSAWIT, Rabu.
Kendati di November terjadi penurunan ekspor CPO, kinerja ekspor CPO Indonesia sepanjang Januari-November 2015 tercatat mengalami peningkatan hingga 21% menjadi 23,8 juta ton dibandingkan periode sebelumnya yang hanya sejumlah 18,7 juta ton. “Ekspor minyak sawit tetap tumbuh,” kata Fadhil. (T2)







