INFO SAWIT, JAKARTA – Penarapan praktik berkelanjutan pada budidaya kelapa sawit kini tidak hanya dikenakan pada perusahaan kelapa sawit swasta besar, namun petani juga demikian.
Tetapi sayangnya petani, utamanya petani swadaya memiliki berbagai kekurangan mislanya minim pengetahuan budidaya, minim modal, tidak terorganisir dan sulit mengakses pasar TBS.
Untuk saat ini dimana semua telah menuju pada produksi kelapa sawit berkelanjutan, mau tidak mau petani swadaya pun perlu dilakukan penguatan terkait praktik berkelajutan. Terlebih dari 42% lahan yang dimiliki petani sekitar 75% adalah miliki petani swadaya yang tersebar diberbagai wilayah di Indonesia.
Namun lagi-lagi, jika berbicara mengenai pendampingan dan peningkatan kapasitas petani, bakal berujung pengeluaran ongkos, jelas ini berakibat pada sulitnya petani swadaya mendapatkan mitra perusahaan.
Nah, untuk penguatan kapasitas petani sehingga memiliki kapasitas dalam menerapkan praktik berkelanjutan, SNV Netherland, telah mempraktikan cara peningkatan kapasitas petani lewat program Responsible Sourcing from Smallholder (RSS), dimana kata SNV Coordinator Oil Palm BMP for Smallholder, Dani Rahadian, program ini bakal membantu petani untuk mengurangi resiko kerusakan lingkungan, terutama pada 3 isu utama diantaranya, legalisasi kepemilikan lahan, deforestasi dan hak-hak pekerja.
Kata Dani, jika petani sudah menerapkan RSS maka sekitar 33% telah mampu menghilangkan resiko dalam upaya mendapatkan sertifikat berkelenjutan skim petani. “Program ini untuk meningkatkan kapasitas petani dalam upaya menerapkan praktik berkelanjutan,” katanya kepada InfoSAWIT, di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut ata Dani, RSS bukanlah skim sertifikasi, namun merupakan program peningkatan kapasitas sebelum petani swadaya melangkah lebih jauh kedepan untuk menempuh proses sertifikasi berkelanjutan. “Terkait dananya bisa dari petani, atau kecepatan akses penjualan sehingga memangkas ongkos produksi petani,” kata Dani. (T2)







