INFO SAWIT, JAKARTA - Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Teguh Surya mengatakan, Greenpeace menyambut baik terpilihnya aktivis lingkungan Nazir Foead sebagai Kepala BRG. Jika pemerintah memperkuat kebijakan perlindungan gambut yang saat ini tengah diperbaiki, maka pengangkatan Nazir memimpin BRG diharapkan akan efektif dalam mewujudkan perlindungan total gambut. “Pembentukan BRG adalah langkah awal yang bagus, namun badan ini akan efektif dan sukses melindungi ekosistem gambut dengan melibatkan masyarakat dengan membuka akses publik terhadap data-data kehutanan yang selama ini tertutup,” ujar dia dalam siaran persnya yang dikutip di Jakarta, Minggu .
Dalam Perpres No 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut disebutkan bahwa target restorasi hanya seluas 2 juta ha hingga 2020. Target ini masih jauh di bawah luasan gambut rusak yang juga seharusnya turut dipetakan dan direstorasi oleh pemerintah. “Pencegahan kebakaran secara permanen akan efektif jika restorasi gambut dilakukan di seluruh kawasan yang rusak tidak hanya terbatas pada 2 juta ha, dengan target waktu dan indikator yang jelas,” tambah Teguh.
Pembukaan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri merupakan akar masalah krisis kebakaran dan asap selama bertahun-tahun yang telah menyebabkan kerugian ekonomi Indonesia mencapai US$ 16 juta serta kesehatan jutaan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Akar masalah ini sudah disadari oleh pemerintah yang pada Oktober 2015 Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan instruksi terkait antisipasi kebakaran hutan dengan tidak memberi izin lagi pembukaan gambut. Bulan berikutnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga mengeluarkan instruksi formal kepada seluruh perusahaan perkebunan memerintahkan mereka untuk menghentikan rencana ekspansi ke lahan-lahan gambut. (T2)










