Melambatnya pertumbuhan pengembangan sawit, menyusul masih lesunya ekonomi dunia, munculnya El-nino, rendahnya harga CPO dan isu berkelanjutan tak pelak mendorong industri benih sawit ikut melambat di 2015, lantas bagaimana di 2016?
Saat memasuki tahun 2015, rasa optimisme itu masih ada, terlebih kondisi ekonomi yang diprediksi bakal membaik termasuk perkiraan iklim yang wajar. Oleh sebab itu proyeksi pertumbuhan industri benih sawit sebelumnya ditarget meningkat 20% dari penjualan benih sawit di 2014 yang mencapai 103 juta benih.
Namun demikian dengan berjalannya waktu, sepanjang tahun 2015 terjadi berbagai koreksi pertumbuhan yang sangat signifikan, utamanya kondisi makro ekonomi yang justru memiliki keterikatan dengan industri kelapa sawit nasional.
Contoh, merosot tajamnya harga minyak mentah dunia (crude oil), dari berbagai kajian ekonom harga minyak sawit mentah (CPO) memiliki keterikatan dengan naik dan turunnya harga minyak mentah dunia. Sangat bisa dimengerti jika harga minyak mentah anjlok, maka harga CPO pun merosot.
Disaat harga CPO belum lagi pulih, muncul gejala alam El-nino, musim kering berkepanjangan, yang tentu saja berdampak pada produksi perkebunan kelapa sawit. Dampak yang paling dirasakan biasanya pada perkebunan kelapa sawit yang relatif jauh dari garis khatulistiwa, baik relatif yang mendekati ke utara maupun selatan. Biasanya dampak yang dirasakan berupa bobot buah yang lebih ringan dan potensi pembentukan buah jadi berkurang.
Pada waktu bersamaan ekonomi Indonesia tidak juga membaik, justru muncul koreksi pertumbuhan ekonomi. Merujuk Global Competitiveness Index (GCI), index kompetitif Indonesia tercatat merosot menempati ranking 37 dari tahun sebelumnya yang telah mencapai ranking 34. Jelas kondisi demikian berimplikasi terhadap pertumbuhan industri kelapa sawit nasional.
Dikala situasi ekonomi mengalami koreksi, isu lingkungan justru tercatat meningkat tajam, semisal ada deklarasi Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP) yang berkomitmen untuk tidak melakukan deforestasi, tidak membuka lahan gambut, memastikan ketelusuran bahan baku, dan sebagainya.
Tentu saja deklarasi ini tidak bisa dianggap remeh, pelaku deklarasi IPOP merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memiliki driving force yang sangat kuat, sebab itu industri yang berada di hulu nya juga mesti peduli dengan kondisi demikian.
Disatu sisi deklarasi tersebut . . .










