INFO SAWIT, JAKARTA - Pemerintah berupaya meningkatkan konsumsi bahan bakar biodiesel 20 persen (B20) untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang masih impor.
Bahan B20 yang berasal dari sawit diharapkan mampu membuat harga sawit milik petani dalam negeri stabil. Sejumlah upaya sosialisasi dilakukan di beberapa kota untuk menggenjot konsumsi B20 ini.
"Dari kebutuhan BBM secara nasional, 50 persen di antaranya merupakan BBM impor. Ini menyedot devisa negera yang cukup besar," ujar Huda Wijayanto, Kasie Pelayanan Bioenergi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di sela acara Sosialisasi pemanfaatan B20 di Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Malang, Senin.
Menurutnya, saat ini biodiesel dengan kandungan 15 persen (B15) memang sudah mulai digunakan masyarakat. Di Malang, B15 juga telah banyak digunakan. Namun, mulai Januari 2016, pemerintah akan semakin gencar mengajak masyarakat untuk berhijrah menggunakan B20 sebagai pengganti solar. Dia menjelaskan, untuk menambah pasokan, pemerintah menyiapkan dengan membangun dua pabrik biodiesel B20.
Heppy Wulansari, Assistant Manager External Relations Pertamina Marketing Operation Region V, menambahkan konsumsi biodiesel 20 persen sudah mulai dilakukan di Malang dan sekitarnya.
“Solar selama ini sudah dicampur dengan FAME (fatty acid methyl ester). Kami menyebutnya dengan biosolar. Pencampuran sudah dilakukan beberapa tahun terakhir dengan bertahap. Mulai dari lima persen, naik 10 persen dan 15 persen. Awal Januari ini sudah 20 persen,” jelas dia seperti dikutip Vivanews. (T2)










