INFO SAWIT, JAKARTA - Gabungan Industri Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan bahwa penggunaan bahan bakar biodisel 20% (B20) aman untuk semua jenis kendaraan bermotor disel. Pernyataan ini berdasarkan uji sistem bahan bakar yang dilakukan oleh Toyota dan Denso Jepang. Serta hasil kajian kesiapan kendaraan diesel oleh ESDM, Gaikindo, Aprobi, BPPT, Pertamina dan ITB yang diikuti oleh Toyota, Mitsubishi dan Chevrolet hingga jarak tempuh 100.000 kilometer.
Agar masyarakat mau mengggunakan bahan bakar B20, Tim Readshow B20 gencar melakukan sosialisasi. Setelah dari Semarang, Tim langsung menuju Surabaya via jalur Pantura, yakni Semarang, Demak, Kudus, Rembang,Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Di Surabaya, sosialisasi dilakukan di Gedung Pasca Sarjana Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Kepala Kompartemen Teknik Lingkungan dan Industri Gaikindo, Abdur Rochim mengatakan bahwa hasil pengujian kendaraan bermotor disel dengan membandingkan bahan bakar B0 dan B20 hingga jarak tempuh 100.000 km menunjukkan bahwa secara umum tidak ada masalah. Kinerja kendaraan B20 tidak ada perubahan signifikan.
"Dan yang harus ditekankan, B20 ini lebih ramah lingkungan. Emisi gas buang CO, NOx dan HC dari B20 lebih rendah dibanding B0," kata Abdur Rochim, Senin seperti dikutip Kanalsatu.
Sementara itu, Ditjen EBTKE, Huda Wijayanto mengatakan bahwa saat ini, kebutuhan solar dalam negeri mencapai 16 juta liter. Dengan besarnya kebutuhan, Indonesia harus selalu mengimpor solar hingga 40% dari total kebutuhan tersebut. Untuk mengatasi ketergantungan terhadap solar impor dan sebagai ketahanan energi nasional, maka arah kebijakan energi nasional adalah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi berbasiskan sumberdaya fosil dan beralih ke energi terbarukan. Ditargetkan, hingga 2025, penggunaan energi terbarukan ini akan mencapai 23%.
"Energi dari fosil semakin menipis, sementara kebutuhan energi nasional terus tumbuh sekitar 7% hingga 8% per tahun. Jika tidak ada alternatif pengalihan, akan semakin cepat habis. Disisi lain, pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih sangat kecil, hanya sekitar 6% dari total kebutuhan. Padahal potensinya sangat besar," ujar Huda. (T2)










