INFO SAWIT, JAKARTA – Sampai Desember 2015 total perizinan usaha perkebunan tercatat telah mencapai 10,7 juta hektar (ha), namun luasan lahan sawit nasional kabarnya diyakini lebih tinggi mencapai 11 sampai 12 juta.
Kondisi demikian diakibatkan proses distribusi data dari daerah ke pusat acap mengalami kendala, sehingga terjadi pelambatan informasi. Dikatakan Deputi Direktur Kebijakan, Sustainability dan Transformasi WWF Indonesia, Irwan Gunawan, dengan luasan sawit itu diperlukan solusi tepat, apalagi dari sekitar 412 grup perusahaan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), baru sekitar 7 group perusahaan yang komit terhadap kelestarian lingkungan.
Sementara yang menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) hanya sebanyak 92 group perusahaan. “Artinya baru sekitar 11 sampai 12 persen saja yang komit,” katanya kepada InfoSAWIT, di Jakarta.
Padahal, tambah Irwan, bisa berkontribusi pada agenda perubahan iklim, mislanya dengan menerapkan instrumen yang telah ditetapkan. Terdapat dua instrumen yang bisa menjadi dukungan terhadap perubahan iklim, yakni menerapkan High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stok (HCS). (T2)







