INFO SAWIT, MEMPAWAH - Bencana asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2015 silam disebut-sebut yang terparah dalam sejarah. Di Kabupaten Mempawah, kabut asap berlangsung berminggu-minggu dengan tingkat pencemaran dilevel berbahaya. Mengantisipasi kasus serupa, Pemerintah Kabupaten Mempawah melaksanakan rapat evaluasi dan penanggulangan, Selasa (23/2) di Aula Kantor Bupati Mempawah.
Rapat dipimpin Bupati, H Ria Norsan dan diikuti sejumlah pihak terkait. Mulai dari Forkopimda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, BMKG serta sejumlah SKPD dilingkungan Pemerintah Kabupaten Mempawah.
“Sepanjang 2015, sebanyak 368,5 hektare lahan di Kabupaten Mempawah terbakar. Dari sembilan kecamatan, hanya Kecamatan Toho yang tidak terjadi Karhutla.Dan dari delapan kecamatan itu, penyumbang api terbesar di Kecamatan Sungai Pinyuh. Yakni Desa Galang, Bakau Besar Darat, dan Rasau dengan luas lahan 210,5 hektare,” ungkap Norsan.Bupati menerangkan, pihaknya telah mengidentifikasi potensi dan penyebab terjadinya karhutla dilingkungan masyarakat. Yakni disebabkan faktor sebaran kawasan gambut yang merata di setiap kecamatan dan pola membuka lahan dengan cara membakar atau land clearing.
“Kami tidak mengkambinghitamkan perusahaan dalam kasus karhutla di Kabupaten Mempawah. Namun yang paling utama agar semua pihak memiliki komitmen dan kesadaran untuk menjaga lingkungannya dari karhutla,” tuturnya seperti dikutip Pontianakpost.
Terkait upaya penanggulangan karhutla pada 2016 ini, Norsan mengungkapkan telah melaksanakan beberapa langkah. Mulai dari sosialisasi dan penyebarluasan informasi potensi bencana alam, pelatihan dasar penanggulangan bencana pada daerah yang sering mengalami bencana, koordinasi penanganan karhutla, banjir, puting beliung dan longsor.
“Kami juga telah melakukan pemetaan wilayah rawan bencana, penambahan peralatan pemadam baik mobil maupun mesin, rekrutmen 12 tenaga lapangan pemadam kebakaran, persiapan buffer stock bagi masyarakat korban bencana dan pengusulan penambahan peralatan di BNPB,” paparnya.
Hanya saja, masih menurut Norsan, dalam melaksanakan berbagai upaya itupihaknya menemukan hambatan dan kendala dilapangan. Salah satunya keterbatasan sarana dan prasarana, terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang p enanggulangan bencana, dan terbatasnya regu pemadam Karhutla. (T2)










