Sebelumnya pada April 2015 silam harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit mengalami puncak tertinggi. Sayangnya semenjak itu hingga awal tahun 2016 harga TBS kembali melorot, apakah ini akibat kebijakan pungutan perkebunan?
Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi semenjak Mei 2015 hingga awal tahun 2016 tidak bisa terelakan. Ini terjadi salah satunya akibat imbas dari melorotnya harga minyak sawit mentah (CPO) dunia yang sudah terjadi semenjak pertengahan tahun 2014 silam, plus melambatnya ekonomi dunia.
Merosotnya harga CPO dunia, hingga kini masih mengalami tren yang serupa, bahkan semakin tertekan menyusul anjloknya harga minyak mentah (crude oil) berbasis fosil yang berada dibawah US$ 30/barrel.
Harga TBS sendiri tidak bisa lepas dari pergerakan harga CPO di dunia, namun pada April 2015 silam merujuk informasi dari Koperasi Sawit Usaha Manunggal (Kopsa UM) yang berlokasi di Desa Seresam, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, TBS petani masih dijual dengan harga tertinggi Rp 1.800/kg.
Harga ini menurut Sekretaris Kopsa UM, Makhaludin, merupakan harga TBS yang tertinggi bisa dicapai pada 2015 silam. “Saat itu harga TBS berada di puncaknya,” kata Makhaludin kepada InfoSAWIT lewat surat elektronik, belum lama ini.
Justru tren penurunan harga TBS terus tercatat terjadi semenjak Agustus 2015, harga TBS di Riau melorot menjadi Rp 1.600/kg, penurunan itu terus berlanjut di bulan September hingga Oktober yang masing-masing mencapai Rp 1.400/kg dan Rp 1.100/kg. “Sementara di harga TBS di Januari ada kenaikan menjadi Rp 1.300 per Kg,” katanya.
Peningkatan sementara ini, tidak bisa menyamai harga TBS di April 2015 yang mampu mencapai Rp 1.800/kg, atau ada rata-rata penurunan hingga Rp 500/kg. Jelas dengan kondisi saat ini petani plasma lebih banyak gigit jari. Utamanya bagi anggota Kopsa UM, kondisi ini menjadi sangat sulit.
Kondisi demikian berimbas pada banyak petani yang tidak mampu membayar cicilan pinjaman baik di Bank maupun di Kopsa UM. “Banyak yang tidak mampu membayar angsuran karena ketekoran, apalagi produksi saat ini tengah turun sementara harga rendah,” kata Makhaludin.
Bahkan bagi yang tidak lagi mampu untuk mempertahankan perkebunan kelapa sawitnya akibat pendapatan yang tekor, dengan terpaksa kabarnya banyak juga petani utamanya para petani swadaya yang melepas perkebunannya untuk di jual.
Kendati tren penurunan harga TBS sudah terjadi sekitar 6 bulan, hingga saat ini belum ada langkah konkrit dari petani untuk mengantisipasi turunnya harga. Namun Makhaludin mengatakan, untuk kondisi saat ini lebih baik pihakya melakukan pengurangan kegiatan usaha yang kurang produktif.
Namun bila kondisinya tetap tidak memungkian, ada juga petani yang dengan terpaksa menurunkan orderan pupuk guna mengurangi potongan hasil produksi yang lagi rendah dan melorotnya harga. Kendati cara demikian tidak disarankan, sebab bakal mempengaruhi produktivitas kebun sawitnya.
Kondisi serupa nampaknya . . .










