INFO SAWIT, SAMARINDA - Pengamat Ekonomi Lingkungan Universitas Mulawarman (Unmul), Bernaulus Saragih mengatakan, 10 tahun terakhir ini adalah masa migas dan batu bara menopang perekonomian Kaltim. Dia memprediksi, bisnis minyak akan habis sekira 13 tahun dari sekarang. Sementara batu bara, akan terus tergerus hingga benar-benar ditinggalkan kira-kira pada 2030.
“Bisnis sawit adalah solusinya. Tapi, apakah bangsa Indonesia sudah memiliki kedaulatan atas SDA, termasuk sawit?” ucapnya, saat memaparkan pandangannya terkait sawit dalam kegiatan bedah buku di Auditorium Unmul, belum lama ini seperti dikutip Prokal.
Dia memaparkan, investasi besar-besaran industri sawit sudah dilakukan sejak 2003 lalu. Namun, 64 perusahaan sawit terkemuka Indonesia memperoleh modal sebagian besar berasal dari sindikasi perbankan asing, seperti Belanda, Singapura, Malaysia, Tiongkok, Inggris, Hong Kong, dan lainnya, dengan porsi 60 hingga 70%. “Apakah kita sudah menjadi pengelola di negeri sendiri, atau hanya sebagai karyawan mereka (pihak asing)?” ujarnya.
Bernaulus menjelaskan, seperti halnya migas dan batu bara, sekira US$ 90 miliar total output SDA Indonesia per tahun, tidak sampai 20% yang masuk ke kas negara. Tepatnya, hanya di kisaran US$ 22 miliar. Sebagian besar pendapatan lari ke luar negeri menjadi benefit investor asing.
“Bila dihitung antara nilai kekayaan alam Indonesia 10 tahun terakhir yang rata-rata senilai US$ 20 miliar per tahun. Nyaris sama dengan nilai SDA yang diterima investor asing dari bumi Nusantara. Artinya, net profit yang perusahaan asing terima dari eksploitasi bumi Indonesia diinvestasikan kembali ke negeri ini dalam memperluas eksploitasi itu lagi,” beber dia.
Dia menambahkan, memiliki sumber daya sawit terbesar di dunia semestinya menjadikan Indonesia memperoleh kemakmuran yang dapat dinikmati rakyatnya. Baik dampak dari seluruh proses dan nilai tambah sawit itu.
“Belajar dari SDA migas dan batu bara maupun perkayuan yang selama ini eksploitasi lebih besar dari manfaatnya. Ini namanya tak ada kedaulatan atas SDA itu bagi masyarakat Indonesia,” imbuh Bernaulus.







