INFO SAWIT, JAKARTA - Lead Environmental Specialist Bank Dunia Ann Jeanette Glauber mengatakan, agar efektif, upaya pemulihan tersebut harus direncanakan dengan baik dan menyertakan rencana pengelolaan jangka panjang.
Menurutnya, jika dilaksanakan dengan buruk, maka pemulihan bisa mengakibatkan dampak dan biaya yang tidak diinginkan. Hal itu terutama di daerah dimana penduduk setempat bergantung pada lahan tersebut untuk mata pencaharian.
Ann Jeanette Glauber memperkirakan, awal biaya pemulihan guna pemblokiran kanal dasar untuk dua juta hektar mencapai sekitar Rp27 triliun. “Angka itu belum termasuk biaya berulang untuk pengelolaan jangka panjang,” jelasnya di Jakarta, Kamis.
Angka tersebut, juga belum memperkirakan biaya bagi bisnis yang harus beradaptasi dengan praktik-praktik usaha dengan drainase yang rendah atau transisi ke kegiatan yang sesuai dengan lahan gambut basah.
Ia menambahkan, pemulihan lahan yang efektif akan memprioritaskan daerah-daerah di mana investasi menawarkan keuntungan terbesar, seperti di daerah-daerah di mana hanya sebagian kecil dari total lahan gambut yang terkena dampak. “Pengalaman internasional menunjukkan bahwa konservasi habitat lahan basah yang masih utuh lebih murah biayanya dibandingkan dengan pemulihan,” katanya.
Sebelumnya, Bank Dunia memperkirakan bahwa kebakaran hutan di Indonesia pada 2015 memberikan kerugian hingga Rp221 triliun atau setara dengan 1,9 persen Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2015. (T2)










