INFO SAWIT, NUSA DUA – Dikatakan Yann Laurans dari Institute for Sustainable Development and International Relations (IDDRI), Perancis, COP 22 yang bakal diadakan di marrakesh, Maroko, bakal melanjutkan isu yang sudah diluncurkan dalam COP 21 di Perancis.
Tutur Laurans, COP 22 bakal membahas isu-isu diseputar sektor pertanian, apalagi utamanya di negara-negara berkembang, pertumbuhan sektor pertanian atau perkebunan acap berkaitan dengan rusak atau menghilangkan hutan.
Untuk Indonesia, tutur Laurans, komitmen Indonesia pada COP 21 sangat diapresiasi dengan upaya menurunkan emisi hingga 29% di 2030, upaya penyelamatan hutan bakal menjadi agenda utama, lantaran rata-rata negara berkembang hutan masih mejadi modal dalam pembangunan negara. “Untuk melakukan masih belum terlambat dalam menerapkan komitmen perlindungan lingkungan, sebab agrikultur menjadi aspek penting di COP 22,” kata Laurans, kepada InfoSAWIT dalam acara ICOPE ke 5, di Nusa Dua, Bali.
Laurans mengakui, pihaknya banyak mendapatkan masukan bahwa menghentikan pembukaan lahan dalam upaya mereduksi emisi di negara-negara berkembang, bukan menjadi solusi dalam upaya memperbaiki lingkungan dan memperlambat perubahan iklim. “Pertemuan itubakal menghasilkan adaptasi untuk semua pihak, selain itu mucul mengenai isu perdagangan dan dalam COP 22 bakal banyak pertanyaan sulit,” kata Laurans. (T2)







