INFO SAWIT, NUSA DUA – Konferensi Internasional untuk Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2016 secara resmi ditutup pada hari Jumat (18/3) kemarin, dengan dihadiri oleh lebih dari 400 delegasi dari 18 negara yang membahas isu-isu tentang bagaimana meningkatkan produktifitas kelapa sawit sembari mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, serta bagaimana pengurangan emisi gas rumah kaca dari produksi kelapa sawit dapat berkontribusi pada target Indonesia yang diumumkan pada COP21.
Topik yang dibahas selama konferensi tiga hari ini diantaranya, pertama, menjaga produktifitas superior melalui bibit unggul dengan produktivitas tinggi, kedua, praktik pertanian yang baik, dan bagaimana industri kelapa sawit mendukung dan melibatkan para petaninya dalam mitigasi serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Ketiga, peserta juga membahas bagaimana menghitung jejak karbon serta bagaimana mengurangi emisi dari industri kelapa sawit sesuai skema sertifikasi kelapa sawit lestari seperti ISPO, RSPO, dan ISCC.
President Managing Director CIRAD, Michel Eddi mengucapkan terimakasih atas kerjasama penelitian yang bermanfaat antara pemerintah dan swasta. Tantangannya adalah untuk membatasi perluasan perkebunan sawit melalui intensifikasi produksi lestari, peningkatan kemampuan pelaku utama seperti petani sawit, dan promosi strategi pembangunan yang dapat meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
“Peningkatan ketahanan sektor secara menyeluruh bergantung pada menguatnya prinsip dan kriteria keberlanjutan yang membutuhkan upaya penelitian bersama yang saat ini terus berlangsung,” kata Eddi. (T2)






