INFO SAWIT, NUSA DUA - Menghentikan deforestasi dan penanaman di atas lahan gambut, menangkap gas metana selama pengelolaan limbah cair pabrik, menghentikan praktik tebang dan bakar oleh petani merupakan beberapa solusi penting yang dibahas selama ICOPE 2016. Mengoptimalkan pengelolaan air di lahan gambut yang telah ditanami dengan didukung tindakan pencegahan dan pengendalian kebakaran dengan keterlibatan masyarakat dipandang sebagai faktor penting dalam menghadapi ancaman El Nino dan La Nina.
Ketua Komite Penyelenggara ICOPE 2016, JP Caliman saat menutup konferensi tahun ini mengatakan, teknologi untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim tersedia untuk membantu industri kelapa sawit. “Yang lebih penting adalah bagaimana para pemangku kepentingan di sektor ini dapat bekerjasama mendukung para petani sawit swadaya dengan pemberian insentif yang sesuai, kerangka peraturan, dan bantuan teknis,” tutur Caliman.
“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh delegasi, pejabat pemerintah, ilmuwan, para pemain industri kelapa sawit khususnya petani, para sponsor dan peserta pameran atas kehadirannya dalam konferensi ini dan berbagi pemikiran serta gagasan untuk meningkatkan kinerja industri kelapa sawit. Kami ingin terus menyelenggarakan konferensi seperti ini untuk merumuskan solusi-solusi ilmiah yang dapat ditindaklanjuti dengan rencana aksi yang dapat dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan di sektor kelapa sawit,” lanjut Bapak Caliman dalam siaran pers yang diterima InfoSAWIT..
Konferensi Internasional untuk Kelapa Sawit dan Lingkungan (ICOPE) 2016 merupakan konferensi internasional dua tahunan yang ditujukan sebagai sebuah wadah ilmiah untuk pengembangan kelapa sawit lestari dalam memenuhi tantangan lingkungan.
ICOPE dilaksanakan melalui kerjasama antara PT SMART Tbk, World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia, dan CIRAD France. ICOPE berikutnya dijadwalkan pada tahun 2018.(T2)










