Berita Lintas
sawitbaik

Bank Dunia: Harga CPO Februari Naik 13%



Bank Dunia: Harga CPO Februari Naik 13%

INFO SAWIT, JAKARTA – Merujuk data dari Bank Dunia menunjukkan harga CPO pada Februari 2016 melonjak 13% dibanding bulan sebelumnya. Sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah sebesar 4%, harga timah melambung 13%, batu bara 2%, karet 3%, dan alumunium 3%, sedangkan harga emas melejit 9,2%. Pemulihan harga komoditas diperkirakan berlanjut dalam jangka menengah.

Tentu saja ini melegakan. Meski tren kenaikannya belum dapat dipastikan permanen, setidaknya sudah ada tanda-tanda harga komoditas tidak mengalami stagnasi. Kita berharap, kenaikan harga komoditas akhir-akhir ini bukan semu, melainkan benar-benar terjadi akibat penawaran dan permintaan (supply and demand) yang wajar.

Kenaikan harga komoditas adalah dambaan masyarakat dan pelaku usaha di Tanah Air. Membaiknya harga komoditas tambang akan membuat perusahaan-perusahaan pertambangan yang selama ini terpuruk, bangkit kembali. Begitu pun industri-industri ikutannya. Ratusan ribu pekerja tambang--terutama di Kalimantan--yang menganggur, bakal bekerja lagi.

Kenaikan harga komoditas perkebunan juga sudah lama diidam-idamkan masyarakat dan para pengusaha di negeri ini. Jika harga CPO, karet, kakao, dan komoditas kebun lainnya naik, perusahaan-perusahaan perkebunan di daerah bakal lebih gencar berproduksi. Keuntungan mereka meningkat. Para petani plasma ikut sejahtera.

Pemerintah pun turut diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Semakin tinggi keuntungan perusahaan tambang dan komoditas perkebunan, semakin besar pula penerimaan pajak yang diperoleh pemerintah. Ekonomi di sentra-sentra produksi tambang dan perkebunan bertumbuh. Angka kemiskinan dan pengangguran berkurang. Tugas pemerintah menjadi lebih ringan.

Dampak positif kenaikan harga komoditas jelas berimbas ke lantai bursa. Separuh lebih emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan perusahaan pertambangan, perkebunan, dan yang terkait langsung dengan kedua sektor tersebut. Praktis kenaikan harga komoditas tambang dan kebun bisa mendongkrak harga saham emiten-emiten bersangkutan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ikut terangkat.

Indonesia, 5-10 tahun lalu, menikmati masa gilang-gemilang komoditas. Perusahaan-perusahaan berbasis CPO, batu bara, nikel, alumunium, dan tambang mineral lainnya benar-benar berjaya. Pada 2011 yang merupakan masa keemasan komoditas, nilai ekspor nonmigas nasional menembus rekor tertinggi, US$ 162 miliar.

Tulis Beritasatu, gara-gara booming komoditas yang dipicu melonjaknya permintaan di negara-negara maju dan Tiongkok saat itu, CPO dan batubara menjadi sumber kekayaan para pengusaha di Tanah Air. Miliuner baru bermunculan di sentra-sentra pertambangan batu bara dan perkebunan sawit. Para petani pun bnya yang kaya mendadak.(T2)