Berita Lintas
sawitbaik

GENJOT PRODUKTIVITAS TINGGI DAN BERKELANJUTAN



GENJOT PRODUKTIVITAS  TINGGI DAN BERKELANJUTAN

IDH Dorong Kemitraan dengan Petani Swadaya

Dorongan peningkatan produktivitas lewat kemitraan dengan petani swadaya, menjadi salah satu upaya meningkatkan produksi kelapa sawit nasional disaat peraturan perluasan lahan semakin ketat, sekaligus memperbaiki proses budidaya menuju budidaya yang lebih berkelanjutan.

Disaat tekanan isu lingkungan yang semakin tinggi, industri kelapa sawit nasional mampu tetap bertahan, bahkan dapat menjawab tantangan menerapkan praktik berkelanjutan dengan diterapkannya ISPO dan RSPO.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tekanan tersebut juga datang dari persaingan dagang, namun demikian, penerapan praktik berkelanjutan pada akhirnya akan menguntungkan ekonomi, lingkungan dan sosial negara produsen sawit, sehingga memang sepatutnya, bahkan merupakan kebutuhan untuk dilakukan. Hal ini akan membantu minyak kelapa sawit nasional untuk tidak lagi dijadikan kambing hitam rusaknya hutan dan lingkungan.

Dalam perjalanannya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seringkali dianggap pengganggu pertumbuhan industri kelapa sawit nasional, lantaran acap menyuarakan isu negatif, yang dilapangan kebenarannya belum tentu bisa dibuktikan. 

Tetapi dalam tiga tahun terakhir ada yang berbeda dari gerakan lembaga nirlaba tersebut, sebab tidak hanya melulu menyuarakan perubahan terhadap budidaya kelapa sawit berkelanjutan lewat kampanye.

Kini mulai muncul lembaga nirlaba yang turut aktif berperan dalam membangun perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, utamanya untuk perkebunan kelapa sawit milik petani swadaya. Hal ini terutama karena perkebunan petani swadaya memiliki produktivitas paling rendah, bahkan masih kalah jauh bila dibandingkan dengan produktivitas kebun sawit petani plasma mitra perusahaan.

Jelas ini menjadi masalah, apalagi dalam upaya meningkatkan produktivitas kebunnya, petani swadaya seringkali tidak memiliki modal cukup dan pengetahuan budidaya yang baik dan berkelanjutan dan umumnya tersebar atau tidak berkelompok, sehingga posisi tawar petani swadaya menjadi sangat rendah, dikala menjual buah sawitnya.

Selain itu, pihak perusahaan juga seringkali tidak bisa memastikan apakah buah sawit yang dijual petani swadaya berasal dari budidaya terbaik termasuk tidak merusak lingkungan atau tidak.

Dalam kondisi demikian sejatinya pemerintah dapat dibantu terutama untuk mendukung peningkatan kapasitas petani sawit yang saat ini masih belum mencukupi jika dibandingkan dengan kebutuhan yang ada.

Kendati belum begitu banyak . . .