Kejadian kebakaran hutan dan lahan yang sempat menimbulkan dampak negatif, sampai kini terus dicarikan solusi. Namun sebelumnya ada tudingan kebakaran itu akibat pembukaan lahan sawit, benarkah demikian?
Salah satu simulasi upaya penanganan kebakaran lahan, di perkebunan kelapa sawit.
Kejadian kebakaran hutan dan lahan, merujuk data yang disampaikan Borneo Futures, Habitat Hutan Alam Indonesia dan University of Queensland, Prof. Erik Meijaard, kebakaran hutan dan lahan diprediksi telah menelan kerugian ekonomi sebanyak US$ 14 miliar, mempengaruhi kesehatan masyarakat sejumlah 40 juta sampai 80 juta orang, dimana sekitar 300 ribu orang mencari bantuan medis untuk keluhan infeksi pernafasan. “Berdampak pada lingkungan, lantaran sekitar 2,6 juta ha lahan terbakar, ditambah pelepasan gas rumah kaca sebanyak 3%,” kata Erik dalam pemaparannya pada International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) ke 5, di Nusa Dua Bali, pertengahan Maret silam.
Kebakaran hutan dan lahan juga telah berdampak negatif pada hewan air seperti lumba-lumba, tuna dan spesies lainnya. Juga berdampak pada manusia, pada Juni 2010 sekitar 143 kasus kebakaran dilaporkan telah telantarkan.
Lebih lanjut dikatakan Erik, merujuk satelit pemantau cuaca, National Ocianic and Atmospheric Administration, Amerika Serikat (AS), pada Maret 2016 ini iklim El-Nino menjadi yang tertinggi setelah terjadinya musim dingin dibagian utara dunia periode 2015/2016, dan El-Nino Osilasi Selatan (Enso) bakal berlanjut hingga memasuki awal musim panas pada 2016. Erik menilai, kejadian El-Nino di 2015/2016 menjadi yang terkuat setelah kejadian El-Nino pada tahun 1982, 1987 dan 1997 silam.
El-Nino juga ditengarai sebagai salah satu pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, namun demikian kenapa kemudian kejadian kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi lebih menarik, padahal pada belahan dunia lainnya juga mengalami kejadian serupa.
Tutur Erik, informasi mengenai kebakaran hutan lebih banyak disebarluaskan lewat sosial media, lantas muncul keluhan dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Menjadikan isu kebakaran hutan dan lahan di Indonesia cepat meluas.
Lantas siapa sebetulnya yang patut dipersalahkan? Merujuk analisa Erik, pembakaran lahan itu ditengarai dilakukan lebih banyak oleh masyarakat untuk pembukaan lahan pertanian, kendati ada juga pembakaran lahan yang dilakukan secara ilegal oleh oknum perusahaan yang tidak sadar lingkungan dan bertanggung-jawab.
Erik, menilai kejadian kebakaran hutan dan lahan banyak diwarnai dengan salah paham, sebab itu diperlukan verifikasi dengan riset, terlebih ada regulasi yang melegalkan melakukan pembakaran guna pembukaan lahan pertanian untuk masyarakat.
Dugaan Erik . . .










