Berita Lintas
sawitbaik

INDONESIA AKTOR PENTING PASAR BERKELANJUTAN



INDONESIA AKTOR PENTING PASAR BERKELANJUTAN

Sampai akhir 2015 produksi Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) asal Indonesia telah mencapai  6,07 juta ton dari areal seluas 1,47 juta ha. sEBAGAI PRODUSEN CSPO TERBESAR DI DUNIA, Indonesia SEMAKIN KUKUH SeBAGAI aktor penting dalam transformasi pasar berkelanjutan

Bila dibandingkan dengan komoditas minyak nabati lainnya di dunia, minyak sawit merupakan komoditas yang memiliki tingkat produktivitas paling tinggi, selain itu harganya relatif ekonomis, dan bisa digunakan untuk bahan baku berbasis makanan hingga energi. Menurut data Oil World pada tahun 2013, produksi minyak sawit rata-rata tercatat mencapai 3,8 ton CPO/ha/tahun, jauh dibandingkan dengan kedelai yang hanya sekitar 0,36 ton/ha, bunga matahari sejumlah 0,42 ton/ha dan kanola sekitar 0,59 ton/ha.

Wajar dengan tingkat produktivitas yang tinggi kini, minyak sawit telah memasok kebutuhan minyak nabati dunia lebih dari 50%, dan tidak menjadi aneh bila kemudian minyak sawit pun kini menjadi komoditas yang populer di dunia.

Bagi Indonesia kelapa sawit merupakan anugerah, lantaran komoditas ini mampu berkontribusi tinggi bagi peningkatan ekonomi dan devisa negara. Tahun 2006 silam Indonesia memantapkan diri menjadi produsen utama minyak sawit dunia, menyusul Malaysia.

Pada periode 2015/2016 permintaan minyak sawit di dunia diprediksi bakal mencapai 65 juta ton, dan diramalkan permintaan minyak sawit bakal terus meningkat, wajar jika dalam 10 tahun terakhir permintaan minyak sawit di dunia tercatat pesat.

Oil World memprediksi permintaan minyak sawit bakal tumbuh sekitar 5% setiap tahunnya. Bahkan diperkirakan pertumbuhan permintaan minyak sawit itu akan terus tumbuh diangka yang sama hingga 10 tahun ke depan.

Produksi minyak sawit dunia telah meningkat dua kali lipat selama dekade terakhir. Pada tahun 2000, minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak diproduksi dan diperdagangkan, yakni merupakan 40% dari minyak nabati yang diperdagangkan secara internasional.

Lantas diperkirakan pada tahun 2050, permintaan dunia terhadap minyak sawit diprediksi bakal meningkat dari 51 juta ton saat ini hingga mencapai antara 120 dan 156 juta ton, yang merupakan sekitar 65% dari semua minyak yang diperdagangkan (jika mencapai batas atas).

Sementara itu, produksi minyak sawit Indonesia pun tercatat tumbuh hampir 3 kali lipat selama dekade terakhir, dengan pertumbuhan areal lahan sebanyak 8% per tahun dan pertumbuhan produksi sekitar 11% setiap tahun.

Pada akhirnya . . .