INFO SAWIT, MEDAN - Sejak Februari 2014, GAR mendorong perluasan kebijakan keberlanjutannya, dengan terus melanjutkan dukungannya bagi para pemasok independen perusahaan. Salah satunya melalui penyelenggaraan lokakarya pada akhir Maret 2016 lalu di Medan, yang dihadiri lebih dari 150 karyawan senior dari 80 perusahaan.
Beberapa perusahaan yang hadir seperti Bumitama, Pasifik Agro, Asian Agri, Amara dan PTPN, secara bersama membahas manfaat dan peluang kolaborasi dengan GAR dalam aktivitas operasional mereka sesuai dengan GAR Environmental and Social Policy (GSEP) atau Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG).
Menurut Division Head of Policy Compliance and Development GAR, Haskarlianus Pasang, keberadaan Sustainability merupakan bagian dari semua pihak untuk bersama-sama mewujudkannya dalam proses produksi dan perdagangan minyak sawit berkelanjutan. “Kami mengajak dan mendorong keterlibatan para supplier, secara bersama mewujudkannya,” katanya menegaskan.
Peran aktif dan penguatan kapasitas supplier (pemasok) merupakan bagian integral dari peta jalan (roadmap) GSEP yang secara kolektif didukung semua karyawan GAR dan mitra pemasok perusahaan. Roadmap ini, merupakan proses yang memerlukan perbaikan berkesinambungan pada praktek-praktek sosial, lingkungan, ketenagakerjaan, perdagangan dan rantai pasok perusahaan.
Pada Lokakarya ini, selain menghadirkan Wakil Menteri Perdagangan periode 2011-2014, yang sekarang menjabat sebagai Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Bayu Krisnamurthi, juga diisi oleh sejumlah pembicara di antaranya Deputy Director of Market Transformation from World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Irwan Gunawan, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS), Mansuetus Darto, Adrian Suharto dari Neste dan dari The Forest Trust, Nofri Iswandi.
Dalam sambutannya, Bayu menjelaskan, pentingnya melakukan usaha minyak sawit dengan cara baru sesuai jamannya. “Sawit di Indonesia memasuki momentum perubahan yang akan mempengaruhi kita semua,” kata Bayu menjelaskan kondisi terkini yang sedang terjadi di industri minyak sawit. Imbuhnya, keberadaan minyak sawit berkelanjutan harus dapat diproduksi secara jelas dan transparan, tanpa melanggar aturan dan hukum pemerintah.
Senada dengan Bayu, GAR mengembangkan dan memperkenalkan aplikasi baru kepada peserta lokakarya melalui Penilaian Mandiri Pemasok GAR (PMPG) yang bertujuan membantu para mitra pemasok perusahaan mengevaluasi hal-hal yang memerlukan perbaikan berkesinambungan. Aplikasi ini akan membantu GAR mengidentifikasi permasalah dimana pemasok GAR membutuhkan bantuan.
Pentingnya, keberadaan pemasok terhadap KSLG, menurut Managing Director GAR, Agus Purnomo, merupakan bagian dari kepemimpinan GAR dalam mewujudkan komitmen terhadap keberlanjutan. “Kami berharap dapat mewujudkan komitmen perbaikan produktivitas minyak sawit berkelanjutan dengan dukungan semua mitra perusahaan,” ujar Agus Purnomo menegaskan.(T1)







