INFO SAWIT, MEDAN - Tutur Direktur Bagian Tanaman PT Abdi Budi Mulia (ABM) H Syahril Pane kepada sejumlah wartawan, sistem holing adalah melubangi bagian lahan yang akan ditanami bibit sawit sedalam dua meter dan dengan diameter dua meter. Agar cepat dan efektif, pelubangan menggunakan mesin beko atau traktor. Lalu, berbagai material seperti sisa-sisa kayu yang ada di dalam lahan gambut diangkat.
"Sistem holing juga mampu mencegah munculnya ganoderma dan orictes atau kumbang tanduk saat tanaman sawit sudah tumbuh besar," kata Syahril.
Setelah dilubangi, lubang tersebut dibiarkan dua atau tiga bulan. Bersamaan dengan hal itu, batang kelapa sawit yang sudah ditebang diciping atau dipotong menjadi tiga atau empat bagian, kemudian ada yang dirajang untuk dijadikan pupuk.
"Sistem holing ini memang membutuhkan dana besar di awal penanaman, namun sangat hemat saat masa perawatan sawit di kemudian hari. Per hektare sekitar Rp 8 jutaan untuk penerapan sistem holing ini," ungkap Syahril seperti tulis Medanbisnis.
Ia menguraikan, biaya tumbang ciping Rp 3.960.000 per hektare, lalu biaya pelubangan mekanikal menggunakan beko Rp 4.290.ooo per hektar.
"Totalnya mencapai Rp 8.250.000 per hektare. Bila diikuti biaya-biaya selanjutnya seperti pengadaan bibit berkualitas, ajir pancang atau pemberian tanda untuk penanaman pohon dan lobang tanam, dibutuhkan dana berkisar Rp 14.067.500 per hektare. Jumlah ini, jauh lebih murah dibanding biaya perusahaan perkebunan lainnya, termasuk PTPN, yang cenderung lebih dari Rp 20 juta," jelas Syahril.(T2)









