Berita Lintas
sawitbaik

Stok CPO Indonesia Anjlok 25%



Stok CPO Indonesia Anjlok 25%

INFO SAWIT, JAKARTA - Pada April 2015, merujuk catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) stok minyak sawit Indonesia termasuk biodiesel dan oleochemical turun sebesar 25% atau dari 3,02 juta ton pada Maret turun menjadi 2,27 juta ton pada April. Produksi yang stagnan dan mulai naiknya penyerapan biodiesel dan meningkatnya ekspor telah menggerus stok minyak sawit di dalam negeri.

Sepanjang April 2016, ekspor minyak sawit Indonesia ke beberapa negara tujuan utama mengalami kenaikan kecuali ke China. Amerika Serikat mencatatkan kenaikan impor minyak sawit dari Indonesia yang sangat signifikan yaitu sebesar 564% atau dari 12,24 ribu ton pada Maret naik menjadi 81,31 ribu ton. Kenaikan permintaan dari Negeri Paman Sam ini untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, lantaran stok minyak nabati yang menipis di dalam negeri yang telah terjadi sejak akhir tahun dan diperburuk lagi dengan kinerja panen kedelai di wilayah selatan Amerika.

Dilain sisi demand global akan minyak kedelai meningkat karena rata-rata produksi minyak nabati lain juga mengalami penurunan. Kenaikan permintaan minyak sawit dari Indonesia diikuti oleh negara-negara Afrika sebesar 40%, India 32%, Pakistan 26%, negara Uni Eropa sebesar 18% dan Bangladesh 17%.

Berbeda dengan AS, China justru menurunkan impor minyak sawit dari Indonesia cukup signifikan yaitu sebesar 20% atau dari 185,95 ribu ton pada Maret menjadi 149,34 ribu ton pada April ini. Pembelian minyak sawit Indonesia dari Negeri Tembok Raksasa ini terus menunjukkan tren penurunan sejak awal tahun 2016. China juga menurunkan permintaan minyak sawitnya asal Malaysia.

Penurunan permintaan oleh China disinyalir karena China lebih memilih membeli minyak kedelai. Berdasarkan laporan dari Oil World, pada 2 pekan terakhir April, Negeri Panda ini membeli minyak kedelai secara besar-besaran sehingga mencatatkan stok tertinggi sejak tahun 2012. “Selain sedang menggalakan peternakan di dalam negeri, selisih harga yang tipis antara kedelai dan minyak sawit juga menjadi faktor China lebih memilih kedelai karena memang minyak sawit posisinya masih menjadi minyak substitusi,” tandas Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, seperti dlama rilis yang diterima InfoSAWIT, Rabu (1/1). (T2)