INFO SAWIT, JAKARTA - Sepanjang April 2016, harga CPO global bergerak di kisaran US$ 692,5 – US$ 745 per ton, dengan harga rata-rata US$ 713,1 per ton. Harga rata-rata April 2016 ini naik sebesar 4,6% dibandingkan harga rata-rata pada Maret yaitu US$ 681,8 per ton. Sementara itu harga CPO global sampai pada pekan keempat Mei 2016 bergerak di kisaran US$ 680 – US$ 742,5 per ton.
Harga terus menunjukkan tren naik pada pekan pertama dan kedua dan turun pada pekan ketiga dan awal pekan keempat. Pada akhir pekan keempat Mei harga kembali terkerek. Harga minyak sawit terus terkerek karena penurunan produksi di Indonesia dan Malaysia sebagai akibat dari pengaruh El Nino tahun lalu dan didukung juga dengan menurunnya produksi minyak nabati lain sehingga demand di pasar global menjadi tinggi.
Dengan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang menurut kebiasaan konsumsi minyak nabati akan naik khususnya di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim, maka diperkirakan harga minyak sawit global akan terus terkerek naik. GAPKI memperkirakan harga CPO global sampai pada dua pekan pertama Juni akan bergerak di kisaran US$ 695 – US$ 750 per ton.
Pada Mei ini, para pengusaha minyak sawit mulai terkena pungutan Bea Keluar untuk pertama kalinya sejak Oktober 2014. Harga rata-rata minyak sawit untuk periode penetapan Bea Keluar untuk Mei adalah US$ 754,10 ini artinya di atas US$ 750 per ton batas minimum pengenaan Bea Keluar sehingga Bea Keluar diaplikasikan dan berdasarkan pada PMK No. 136/2015 jatuh pada kolom II atau Bea Keluar dikenakan sebesar US$ 3 untuk setiap ton minyak sawit yang diekspor.
Disamping itu pungutan CPO Fund sebesar US$ 50 per metrik ton juga tetap berlaku. “Bea Keluar bulan Juni 2016 ditetapkan oleh pemerintah sebesar US$ 3 per ton atau masih berada pada posisi kolom II, dengan harga referensi tertimbang US$ 751,55 per ton,” tandas Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan, seperti dlama rilis yang diterima InfoSAWIT, Rabu (1/1).(T2)










