Berita Lintas
sawitbaik

Penjualan Bersih SMART Naik 5%



Penjualan Bersih SMART Naik 5%

INFO SAWIT, JAKARTA – PT SMART Tbk mencapai kinerja keuangan yang cukup baik di kuartal I tahun 2016 ini. Penjualan bersih Perseroan berhasil tumbuh 5% menjadi Rp 7,95 triliun meskipun harga pasar internasional CPO melemah. Hal ini disebabkan oleh volume penjualan yang meningkat.

Laba kotor meningkat cukup signifikan menjadi sebesar Rp 1,1 triliun atau naik 24%, sedangkan laba usaha tercatat Rp 256 miliar atau turun 33%. Penurunan laba usaha disebabkan oleh adanya pungutan ekspor CPO sebesar US$ 50 per ton. Perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 462 miliar, lebih baik dibandingkan dengan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 78 miliar yang dibukukan pada kuartal I tahun 2015. Hal ini disebabkan pada kuartal I 2016, mata uang Rupiah terapresiasi dibandingkan US Dolar sehingga tercatat laba selisih kurs selama kuartal berjalan.

Merujuk rilis yang diterima InfoSAWIT, neraca PT SMART Tbk per 31 Maret 2016 tetap kuat. Jumlah aset mengalami sedikit penurunan menjadi Rp 23,02 triliun dari Rp 23,96 triliun pada akhir 2015. Penurunan ini terutama terkait dengan menurunnya kas dan setara kas, piutang usaha dan persediaan.

Posisi keuangan Perseroan tetap berada pada tingkat yang sehat dengan rasio pinjaman bersih terhadap ekuitas yang disesuaikan sebesar 0,71 kali. Pada akhir Maret 2016, nilai ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 8,06 triliun.

Untuk keperluan ekspansi di tahun 2016, Perseroan menganggarkan pengeluaran modal sebesar kurang lebih Rp 916 miliar. Perseroan telah menyelesaikan pembangunan pabrik biodiesel di Kalimatan Selatan dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun dan saat ini dalam proses pembangunan satu pabrik biodiesel lainnya dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun di Marunda. 

Wakil Direktur Utama sekaligus Corporate Secretary PT SMART Tbk, Jimmy Pramono menyampaikan, sebagaimana diperkirakan, produksi industri sawit terpengaruh oleh kondisi El Nino tahun lalu. Meskipun harga CPO akan terus berfluktuasi, prospek industri sawit secara jangka panjang tetap menjanjikan. Sebagai minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi dan paling ekonomis, fundamental permintaan minyak sawit tetap kuat. “Pelaksanaan mandat campuran bahan bakar nabati menuju B20 sebagaimana target Pemerintah Indonesia untuk tahun 2016 akan memberikan dukungan terhadap industri sawit secara jangka panjang,” katanya belum lama ini di Jakarta, Kamis (2/6). (T2)