INFO SAWIT, JAKARTA - Penerapan skim inovasi pembiayaan itu tercatat telah diujicobakan, selepas dilucurkannya gagasan inovasi pembiayaan pada akhir tahun 2013 silam, langsung diujicobakan kepada petani di Provinsi Riau tepatnya di Kabupaten Kampar yang digandeng dengan program Revitalisasi Perkebunan (Revitbun).
Salah satu kelompok petani yang memanfaatkan program ini adalah Koperasi Petani Sawit (Kopsa) Berkat Ridho, yang merupakan mitra dari anak usaha perkebunan Sinar Mas, PT Buana Wiralestari Mas (BWLM) dengan dukungan pembiayaan dari Bank BRI Agro dengan nilai kredit mencapai Rp 48 miliar. Kerjasama ini merupakan proyek perdana dengan fasilitas inovasi pembiayaan seluas 500 ha (ha) bagi petani swadaya untuk kegiatan peremajaan perkebunan kelapa sawit.
Direktur Utama Bank BRI Agro, Heru Sukanto berharap, kerjasama ini bakal terus berlanjut tidak hanya berhenti di 500 ha aja. Namun demikian semua itu tetap tergantung dari sosialisasi di lapangan dan strategi yang diterapkan Perkebunan Sinar Mas.
Namun Heru memastikan, pihaknya bakal mendukung upaya peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit petani swadaya lewat dukungan pembiayaan dari perbankan. Bahkan guna memastikan perkebunan kelapa sawit swadaya dikelola dengan baik, pihak BRI Agro pun bakal menurunkan konsultan independen. “Kami juga akan turunkan konsultan independen untuk melakukan monitoring dan evaluasi pembangunan kebun,” tandas Heru.
Sementara dikatakan Chief Executive Officer PT Buana Wiralestari Mas (Perkebunan Sinar Mas), Franciscus Costan, penerapan inovasi pembiayaan menjadi upaya peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit milik petani swadaya utamanya di wilayah Riau, yang diperkirakan potensi luasannya mencapai sekitar 20 sampai 30 ribu ha.
PT BWLM disini berperan sebagai penjamin, pengelola kebun dan pembina anggota koperasi dalam melaksanakan program revitalisasi tanaman kelapa sawit (replanting) berbasis praktik pertanian berkelanjutan.
Harapan Franciscus Costan, dengan adanya inovasi pembiayaan replanting kebun sawit petani swadaya, kedepan produktivitas kebun-kebun sawit milik petani swadaya bisa meningkat lebih baik lagi. “Seperti petani-petani plasma yang sudah ada dalam binaan kita khususnya,” katanya kepada InfoSAWIT di Jakarta.
Program Revitbun dengan inovasi pembiayaan itu menargetkan peningkatkan produktivitas kebun kelapa sawit petani swadaya dari 2,5-3 ton CPO/ha/tahun menjadi 5-6 ton CPO/ha/tahun. Hanya saja untuk program Revitbun per Januari 2015 lalu telah dihapus oleh pemerintah, yang kabarnya bakal diganti dengan program lain.
Selain di Riau, penerapan inovasi pembiayaan untuk perkebunan kelapa sawit petani swadaya, juga dilakukan Perkebunan Sinarmas lainnya yang berlokasi di Kalimantan Timur, yakni PT Kresna Duta Agroindo (KDA).
Perusahaan telah melakukan kerjasama kemitraan dengan petani swadaya semejak 2013 silam. Langkah ini dilakukan lantaran di sekitar areal kebun mitra plasma perusahaan banyak terdapat kebun sawit perorangan (swadaya).
Melihat hasil produktivitas kebun petani swadaya yang tidak maksimal, perusahaan bersepakat untuk melakukan kerjasama kemitraan dengan petani swadaya. Terlebih dikatakan Chief Executive Officer (CEO) PT Kresna Duta Agroindo, Suryanto Bun, kebun sawit milik petani swadaya itu telah ditanami dengan bibit sawit unggul, dengan melibatkan sekitar 4.000 Kepala Keluarga (KK).
Lewat penerapan inovasi pembiayaan, petani swadaya di daerah Muara Wahau, Kutai Timur pun mendapatkan pendampingan teknis budidaya kelapa sawit berkelanjutan, termasuk mendapatkan berbagai bantuan kredit bibit unggul, pupuk sesuai dosis, sarana dan prasarana kebun serta perawatan hingga pemanenan. “Inovasi pembiayaan diperlukan guna mendukung keberhasilan petani memiliki kebun sawit terbaik dengan biaya paling efisien dan hasil produksi maksimal,” kata Suryanto.
Pendampingan yang dilakukan biasanya lewat pertemuan di koperasi atau tempat-tempat ibadah. Biasanya bimbingan itu berupa teknis agronomi, sementara untuk petani yang kebun sawitnya sudah masuk usia Tanaman Menghasilkan (TM) biasanya dilakukan bantuan analisa daun dan tanah jika dibutuhkan, guna mendapatkan rekomendasi proses agronominya.
Cara itu terbukti efektif dalam upaya menggenjot produktivitas kebun sawit milik petani swadaya, sebagaimana terlihat dari hasil produksi Tandan Buah Sawit (TBS) milik petani yang terus meningkat.
Diprediksi poduktivitas perkebunan kelapa sawit milik petani swadaya bakal meningkat menjadi 30 ton TBS/ha/tahun. “Pola kemitraan antara perusahaan dengan petani wadaya ini akan semakin meningkat manfaatnya selama terus didukung pemda dengan optimal dan diperkuat oleh perbankan dan institusi keuangan lainnya di Indonesia, sehingga petani meningkat kesejahteraannya, lebih peduli lingkungan dan mendapatkan hasil produktivitas terbaik secara bersama-sama,” kata Suryanto kepada InfoSAWIT, belum lama ini di Jakarta. (T2)






